Ini adalah cerpen sastra pertama yang gue buat. Typonya banyak beuud, males perbaiki di blog. Selama ngebuat ini otak gue mimisan, mata gue semaput. Tapi setelah jadi gue ngerasa puas aja. Perasaan puas kayak sudah numbuk puyer 50 bungkus. Puas alamiah dan natural :)
.jpg) |
| credit gambar: info-dandy.blogspot.com |
" Halo ? iya saya segera kesana pak "
" Mama Adit mau es krim "
titt.. titt..titt..titt
" Bu recehnya bu "
" hahahaha "
Dunia ini begitu bising. Bising
karena populasi kendaraan yang meningkat. Bising karena manusianya sangat suka
berkelakar, bahkan dari hal terkecilpun. Dan bising karena itu pendapatku.
Mungkin aku tidak akan berpikir demikian jika dunia tidak menggelap untukku.
Akan berbeda ceritanya jika suara dan visual tampil secara konstan seperti
halnya televisi, bukan radio. Dan radio itu adalah aku, yang mengandung
partikel suara tanpa gambar. Tidak dapat kulihat wanita yang takut terlambat
itu,hanya terdengar suaranya yang bergetar layaknya petikan senar gitar yang
pernah kusentuh. Atau ekspresi anak kecil yang meminta es krim dengan
lengkingan suara yang meraung raung
keras. Begitu pula pengemis yang meminta recehan dengan suara menyayat, aku
ingin tahu apakah dia terlihat lebih menyedihkan dibanding tuna netra
sepertiku. Juga dua gadis yang tertawa kencang disampingku, bersanding dengan
jeritan klakson yang merebak. Apa yang mereka tertawakan ? mungkinkah mereka menertawaiku
?.
Alam memainkan peran dalam
kegelapan. Tidak peduli seberapa banyak matahari menyalurkan cahaya, bagiku
tetap gelap pekat. Dan ketika hujan turun, bunyi rintiknya terdengar seperti
nyanyian parau burung gagak, suara patahan ranting juga bersaing dengan gemuruh
petir yang saling menyahut. Namun tetap tak kulihat mereka semua. Hitam masih
betah menjajah pandanganku.
Aku buta sejak lahir. Entah apa
yang salah. Padahal kehadiranku telah dinanti oleh kedua orangtuaku. Ibu ku
juga rutin meminum vitamin dan jamu agar aku nantinya terlahir sehat tanpa
kekurangan. Tapi apa daya, takdir memainkan perannya disini. Aku terlahir
dengan sepasang mata berpendar gelap. Posisiku yang menjadi satu-satunya orang
cacat dikampungku menjadikan aku sebagai topik hangat pembicaraan mereka.
Mereka bilang kebutaanku mungkin di sebabkan karena saat mengandungku, ayah
sibuk memburu ikan dengan tombak panjang yang langsung menghunus tepat di mata
ikan buruannya. Sebuah mitos yang sama konyolnya dengan teori revolusi Darwin.
Bagaimana mungkin mata ikan yang bahkan tidak pernah berkedip disamakan dengan
mataku. Mereka juga bilang bahwa mataku diambil oleh mahluk halus penunggu
jembatan layang di kampung kami, sebagai tumbal agar jembatan itu tetap kokoh.
Dan yang paling tidak logis, mereka mengatakan bahwa kebutaanku ini menular.
Ibuku hanya mengusap dada mendengarnya. Namun terkadang, bila kadar kesabaranya
dibawah normal ibu tak sungkan menceramahi mereka sambil berkacak pinggang.
" Apa kalian sudah membaca
koran hari ini ? disitu disebutkan bahwa membicarakan orang lain tanpa
kebenaran dapat dikenakan pasal pencemaran nama baik." aku selalu tertawa
tatkala mendengarnya. Ibuku adalah mataku yang sebenarnya. Dia yang mengajari
aku melihat dengan imajinasi. Orang yang buta sejak lahir sepertiku menggunakan
bagian visual dari otak. untuk menyempurnakan sensasi terhadap suara dan
sentuhan yang kurasakan. ibuku juga membantuku berjalan dengan pikiran,
menggunakan navigasi otak untuk mengetahui tata letak. Ibuku juga memberikan teman
untukku, sebuah radio. Benda dari komponen besi itu mengeluarkan alunan melodi
yang terdengar merdu menari-nari di selaput daun telinga. Menaburkan
benih-benih nada yang saling bercumbu dalam getar instrument. Terkadang radio
itu juga mengeluarkan suara dengan intonasi tegas. Menggulirkan kabar peristiwa yang terjadi setiap hari di dunia.
Aku sangat menyukai radioku ini. Hampir tak pernah aku meninggalkannya.
Darinyalah aku bisa melihat dunia dengan perspektifku sendiri. Namun hidup
memanglah tidak sederhana. Tidak kudengar deraian tawa ibu lagi saat nyawa ayah
terenggut paksa oleh selongsong peluru. Ayah mati ketika berusaha
mempertahankan lahan garapannya yang diklaim PT BMS, sebuah pabrik kelapa
sawit. Ibu pun terpuruk dalam kekalutannya, sampai akhirnya, perlahan sebuah
virus kanker menggerogoti payudaranya sehingga meninggalkan borok. Menambah
daftar manusia yang mati akibat kanker jahanam ini. Hatiku terbakar pedih, kini
hanya aku dan radioku yang mengumandangkan frekuensi 110,4 fm pop radio-saluran
favoritku- tengah duduk diantara keramaian Terminal.
"Aaliyah" pekik
seseorang, aku mengenal betul suara ini, suara berat seperti erangan beruang
namun manja bagai kicau burung pipit. Dia Anisa sahabatku.
"Apa kamu nunggu lama?"
tanyanya, napasnya tersengal.
"Setidaknya kamu masih lebih
cepat dari bis," ucapku seraya tersenyum. Dapatku dengar helaan nafas
leganya. dia lalu menggamit tanganku. Aku beranjak lalu mematikan radioku yang
sedari tadi menyala.
"Pasti pop fm". tebak
Anisa, dia pasti merujuk radio yang aku genggam ini.
"Yah, calon tempatku bekerja.
suatu hari aku akan menjadi penyiar disana." ya, itu cita-citaku. Menjadi
penyiar di radio dimana sebagian hidupku tercurah padanya. Anisa menepuk bahuku
" Aku yakin kamu bisa," ujarnya
dengan bunyi sehalus kapas. Anisa, mungkin dia adalah orang yang dikirim tuhan
untuk menggantikan posisi ibuku. Pertama kali bertemu dengannya juga karena
radio ini. Kala itu seorang pencuri putus asa berusaha mengambil radio ini dari
ku, aku menjerit tak karuan. aku berusaha mengejar pencuri itu, dan usahaku itu
sukses membuatku jatuh berkali-kali. Sampai akhirnya telingaku menangkap suara
meminta ampun dari pencuri itu. Tak lama seseorang dengan tangannya yang lembut
meraih tanganku, menelungkupkan radio di atasnya. Sejak saat itu waktu
memainkan perannya. Layaknya benang yang menenun kain ikatan kami berdua. Anisa
telah menjadi bagian dari unsur inderaku. Kami bagai buaya dan burung plover,
ikatan yang saling membutuhkan dan menguntugkan. Setiap hari Anisa tak pernah
absen menjemputku pulang dari kursus khusus tuna netra. Banyak hal yang kami
lakukan bersama. Dia sering mendeskripsikan penghuni dunia beserta isinya
padaku. Dia Kami saling bercerita mengenai kehidupan masing-masing. Dan dari
sinilah aku tahu kalau anisa juga hidup sendiri, ayahnya seorang polisi yang
bertugas di daerah konflik. Sementara ibunya berada di kampung asalnya di
ngawi. Dikota ini dia berteman dengan asap pabrik yang menjunjung, berilmu dari
gedung tinggi menjulang. anisa juga meangkap sebagai penata riasku.
"Kamu tahu Esref Armagan ? dia
adalah pelukis yang buta. Dia menggambar sesuatu yang bahkan belum di lihatnya.
Atau Hellen Kehler, dia buta, tuli dan bisu. Tetapi dia mampu mendapat gelar
sarjana. dengan kemauan kamu mampu menembus penjara gelap milikmu Aaliyah"
ucap Anisa dengan intonasi yang dramatis. Aku tahu dia akan berkata begitu,
kalimat itu sering kudengar saban hari sejak kami mulai bersahabat. Satu hal
yang menjadi persamaan kami berdua. Yang membuat kami lebih bekat secara
emosional. Kami sama-sama berisik.
***
Derik jangkrik hampir mendominasi
indera pendengarku. Hampir mirip dengan bunyi saluran radio yang frekuensinya
terganggu. Aku duduk di salah satu bangku terminal yang kini lengang. Tanganku
mengepal selembar kertas yang sudah lusuh. Perlengkapan aksi unjuk rasaku di
depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat tadi siang. Aku bersama aliansi tuna netra
menuntut pemerintah tentang minimnyaa fasilitas pendukung bagi tuna netra di
tempat umum. Tenggorokanku tercekat, kering kerontang seperti kue yang terlalu
lama dipanggang. Ini akibat dari luapan semangatku saat mengeluarkan orasi
tuntutan. Tuntutan yang mewakili aspirasi seluruh teman senasib denganku di
seluruh Indonesia.
"Aaliyah.." suara Anisa
mendekat, menghampiriku yang sedari tadi diselimuti angin. Tadi saat aku
mengabarinya, Anisa memaksa akan menjemputkan. Dia tidak mengizinkanku pulang
sendirian karena hari sudah larut malam. Apa benar sudah selarut itu?, aku tak
tahu. Tapi yang jelas dunia memang tidak sebising biasanya.
" Wah.. sekarang kamu sudah
seperti seorang aktivis mahasiswa." Anisa menggodaku, Aku balas dengan
mencubitnya. Dia meringis lalu dengan cepat menggelayutkan tangannya yang
mungil di tanganku, menyusuri jalanan yang tidak rata ini. aku mencium aroma
menyengat, baunya menulusup hingga membuat rongga napasku bergeliyat. Kurasa
bau itu bersumber dari Anisa. Berapa botol dia mengguyuri tubuhnya dengan
minyak wangi hingga menciptakan bau yang bisa membuat hidung meleleh. Tidak
hanya itu, aku juga mendengar hentakan sepatu, hentakan yang hanya bisa
dihasilkan oleh sepatu dengan hak tinggi.
"Setampan apa pria ini?"
aku memecah keheningan, tidak biasa Anisa alim begini.
" Apa?!" dia tak mengerti
" Pria yang membuat kamu
berdandan total seperti pemaisuri ini?!" ucapku memberi penegasan. Anisa
hanya terkekeh geli. mengeluarkan riak-riak suara yang manja.
"Aku sedang berkerja."
"Kalau kamu bekerja, lalu apa
yang kamu lakukan disini?" aku tersentak, apa dia meninggalkan pekerjaanya
demi aku?
" Tentu saja menjemputmu
bodoh, huh terbuat dari apa isi kepalamu ini?" ucapnya sembari mengelus
kepalaku lembut.
" Nis, jadi kamu meninggalkan
pekerjaanmu un.. nging.. ngung.. nging.. ngung.. jem nging.. ngung.. ku ?"
suaraku tergusur oleh suara sirene yang aku tidak ketahui berasal dari ambulan
atau mobil polisi. Tapi Anisa secepat kilat melepaskan pelukan tangannya dari
tanganku membuat tubuhku terhempas beberapa senti. Aku tersentak kaget.
Perlahan suara hentakan sepatu Anisa semakin menjauh. disusul suara derapan
yang sangat kencang mulai mendekat dari belakang. Suara sirene melonglong
meramaikan suasana. Aku bisa merasakan kehadiran manusia dalam jumlah banyak.
Orang-orang dengan derap kencang itu. Aku mematung, mulai mencerna setiap bunyi
yang berseliweran di sekitarku. Dan yang terpenting dimana Anisa ? kenapa dia
harus melarikan diri ?
" Hei kalian jangan
berlari..!!" teriak seseorang kalap dengan suara bagai terompet. Keras
mengaum. dan bukan bunyi yang bagus untuk telinga. Sayup sayup suara memohon
dilepaskan terdengar bercampur dengan suara pemberontakkan yang melengking
nyaring. Diantara suara itu aku mencari suara Anisa. Hatiku mulai digiring
memasuki area cemas karena kegaduhan seperti ini. Suasana kacau dan lebih
bising dari biasanya. Jantungku
berpacu, bola mataku bergerak tak karuan.
Sampai akhirnya aku menangkap suara Anisa. Samar, namun masih dengan jelas
kudengar.
"lepaskan saya pak..! saya
tidak mau." jeritnya pilu. dadaku berdesir, ingin segera kutolong
sahabatku itu. Aku yakin dia tidak melakukan hal yang salah. Aku meraba apapun
yang bisa kusentuh. Mencoba mendekatkan diri kearah suara Anisa. Sampai suara
itu datang meruntuhkan keyakinanku.
"Apa yang kau lakukan andi ?
kamu putra ayah satu-satunya! dan sekarang kamu seperti seekor ikan yang
terperangkap di jala milik ayahmu sendiri!"
"Namaku Anisa ayah. jangan
panggil aku andi." apa? apa yang
dia katakan ? alisku bertaut.
"Dasar banci perusak
moral" lalu terdengar suara tamparan disusul suara erangan. Aku tersentak
hingga membuat kelopak-kelopak hatiku berguguran. Dialog yang kudengar barusan
seperti sebuah remote yang dikontrol untuk membuatku mati rasa. Aku lemas,
kedua tulang keringku seakan tidak kuasa menopang bobot tubuhku. Mataku perih,
tak dapat kucegah lagi bulir-bulir air yang menerobos ingin keluar dari kedua mataku.
Seseorang menghampiriku, mungkin salah satu petugas itu. Dia memapah tubuhku.
lalu menanyakan bagaimana keadaanku. aku hanya terdiam. pergumulan didadaku
bagai sebuah gempa yang berskala besar, menggetarkan tubuhku hingga luruh ke
tanah. kemudian suara yang aku kenal betul menyeruak. Suara berat bagai erangan
beruang namun manja bagai kicau burung pipit. Tapi sekarang suara manja yang
bagai kicau burung pipit tak terdengar. Hanya suara berat bagai erangan beruang
yang berkata
Aku terus menerus mengutuki
kejadian malam itu. Malam pucat penuh kegusaran. Malam dimana ayah menunaikan
tugasnya sebagai polisi pamong praja. Dibawah tahta rembulan dengan cahaya
putih berpendar perak, gadis itu tampak kalut bersimbah air mata mengetahui
kalau aku,Anisa sahabatnya adalah seorang waria bernama Andi Firmansyah di
aktenya. Dari kecil aku memang lebih tertarik dengan sosok putri dan pangeran
yang di setiap cerita akan berakhir hidup bahagia selamanya dibanding
sekelompok pahlawan super hero yang sibuk bergumul dengan monsternya. Namun aku
pun tak ingin seperti ini. Siapa yang mau hidup dimana kau bahkan tidak
menginginkan fisikmu yang telah dikaryakan oleh tuhan ?. Dimalam yang sunyi
itu. Diiringi angin yang bersiul pelan. juga dengungan nyamuk yang bersenyawa
dengan kabut, aku bersama beberapa PSK dan waria lain yang terjaring razia
dibawa menggunakan mobil dengan deru mesin yang bergemuruh.
Aaliyah Kamila namanya. Aaliyah
berarti tinggi dan mulia sedang Kamila yang berarti sempurna. Dia sahabatku
yang menetap didunia hitam miliknya,
hitam yang sebenarnya. Sementara aku jatuh ke dunia hitam milikku, hitam yang
bertanda kutip, bersifat kekal dan abadi jika dia tidak mewarnai hitam itu.
Awalnya aku menyukai kebersamaan dengannya karena di depannya aku bisa menjadi
wanita seuutuhnya. Itu karena dia buta. Tidak dapat melihat ragaku yang
tertanam jakun ini. Namun perlahan dengan sikap optimisnya, sifat berisiknya
dan mata yang mengeluarkan binar indah, dia mulai menjadi pensil yang
menggoreskan warnanya diatas lembaran hidupku yang hitam. Dan akupun berhasrat
melakukan hal yang serupa, mewarnai dunianya yang hitam karena
ketidakberdayaan. Tapi sudah tujuh bulan sejak kejadian malam itu aku tak tahu
kabarnya. Lagipula mungkin Aaliya sudah menyisihkan aku dari memorinya. Siapa
yang mau menerima orang sepertiku, setelah tahu semuanya dia mungkin bergidik
jijik saat bersua denganku. Aku menatap cermin tampak seorang pria berwajah
tirus, dengan rambut ikal tertutup seonggok peci yang melekat di kepalanya.
Pakaian putih seputih kapas dan sehalus porselene melekat di badannya yang
kurus. Sementara kakinyaa terjuntai sarung bermotif kotak. Aku menghempaskan napasku, kalau ayah
tidak mengirimku ke pesantren ini , aku mungkin tidak akan pernah menggunakan
pakaian yang tidak modis begini. Aku menggerakkan tanganku ke arah tombol ON
radio. Segera benda kecil itu mengeluarkan senandung lagu 'Separuh Aku' dari
band Noah. Lagu itu mengalun lembut menggertarkan dinding-dinding kamarku. Aku
merenung, andai saja aku bisa berdamai dengan waktu, berkoalisi dengan takdir
dan terikat dengan hati. Dadaku sesak, betapa mudahnya ketiga komponen itu
mempermainkanku. Aku berusaha memejamkan mataku saat suara Ariel telah tergerus
oleh suara halus nan indah. Suara itu tidak hanya menguasai seisi kamarku, tapi
juga seluruh sel-sel tubuhku. Mataku melotot, jantungku gegap gempita.
Dengingan laron serta derik kunang pun tertimbun oleh suara berisik itu. Suara
Aaliyah Kamila.
“Selamat malam dan salam sejahtera
untuk pendengar setia kami. Bertemu lagi dengan saya Aliyah. di 110,4 fm pop
radio. Selama dua jam kedepan saya akan menemani para pendengar dalam segment
curhat bersama Aaliyah. Hari ini topik yang akan dibahas mengenai persahabatan. Namun sebelum memulai acara ini
saja izinkan mengatakan sesjatu untuk sahabat saya. Hmm.. aku hanya ingin
bilang kalau aku merindukanmu. Kau tidak hanya sekedar teman bagiku kau adalah
panca inderaku yg kelima. Aku tidak
peduli kau Anisa atau Andi. Yang aku tahu kau adalah orang yang menemaniku
selama ini.”
Aku terkesiap. Perlahan kedua
airmata menggenang dari kedua mataku. Memang hanya Aliyah yang bisa menerima
diriku lebih dari siapapun.
fin
Butuh donasi koment! Segera!!!