Rabu, April 24, 2013

Lomba cerpen #KomediRomantik


Lomba Cerpen #KOMEDI-ROMANTIK DIVA PRESS DAN UNIVERSAL NIKKO





Obrolan BBM dua lelaki Indonesia yang tinggal di luar negeri, 2 negara berbeda:

Mayoko aiko: “Jadi kapan ini saya merapat ke Jogja?”
Waduuh, BBM Mayoko Aiko ini udah lama ternyata. Gue nggak nyadar. Segera gue bales:
Me: “Duh, maaf, baru balas. Njenengan tinggal dimana je pak?”
Mayoko aiko: “Fokuoka.”
Me: “Mana itu?”
Mayoko aiko: “Jepang selatan. Menghadap laut Korea/Busan.”
Me: “Nggak usah ke Jogja, Pak, aku lagi di Manchester nih, sedang ngadep Old Trafford.”
Mayoko aiko: “Kita harus buat wadah menulis buat anak-anak muda dengan cara yang bener!”
Me: “Siap atuh! Masak spirit anak-anak muda tuk jadi penulis malah dikerjain macem-macem ya, nggak bener itu atuh! Aku paling atuh-lah pokoknya…”
Mayoko aiko: “Kok banyak atuh-nya, Mas…?”
Me: “Pernah sekolah di Dago Atas sih…”
#teeetttt…abaikan ini!

Deal!
Obrolan 2 mingguan lalu akhirnya mengerucut pagi ini. Gue pengampu #KampusFiksi dan DIVA Press dan Mayoko Aiko pengampu Komunitas Cendol dan Universal Nikko memutuskan bekerja sama mengadakan LOMBA MENULIS CERPEN BERTEMA #KOMEDI-ROMANTIK.
So, kalian yang mengaku penulis, cendolers, dan pejuang nulis di DIVA Press, jangan lewatkan wadah istimewa ini! Kita sediakan gadget menarik sebagai hadiah: Netbook ASUS! Bagi satu orang penulis cerpen tergokil!
Untuk info lebih lengkap, silakan simak ketentuan berikut ini!
Ketentuan Lomba:
1.Tulis cerpen dengan tema #KomediRomantik, segmen remaja (teenlit). INGAT: komedi = gokil, gila, lucu, bikin ngekek. Romantik: segala jenis romantika dunia remaja. Kekuatan romantiknya dan gokilnya kan menjadi poin utama!
2. Panjang cerita 10-15 halaman.
3. Gunakan gaya bahasa yang ringan khas remaja. Tidak kaku, tapi bebas.
3. Naskah diketik dengan font Times New Roman ukuran  12 pts spasi ganda (spasi 2).
4. Ukuran kertas A4 dengan page setup: 4 – 3 – 4 – 3  (kiri-kanan-atas-bawah).
5. Naskah dikirim ke email: divapress.universalnikko@gmail.com dengan subjek “#KomediRomantik”
6. Naskah dikirimkan dalam format file WORD melalui lampiran. Badan email biarkan tetap kosong.
7. File naskah word diberi judul dengan format sebagai berikut:
Nama penulis (spasi) (judul cerpen).
Misalnya: Putri Cetar Myunk (Cintaku Hakprett!)
8. Penerimaan naskah dari tanggal 21 April 2013 – 20 Mei 2013 maksimal pukul 16.00 WIB.
9. Sertakan biodata lengkap dari masing-masing kamu (nama lengkap, alamat, no telepon) plus alamat twitter, di halaman terakhir/halaman belakang karya kamu.
Penjurian:
1. Penjurian akan dilakukan maksimal 30 hari setelah penerimaan naskah terakhir.
2. Juri akan memilih dan menerbitkan 20 naskah unggulan dan menentukan satu naskah yang dianggap terbaik (juara pertama) untuk mendapatkan 1 netbook Asus.
3. Seluruh peserta yang naskahnya diterbitkan akan mendapat buku terbitan lomba tersebut dari dan sertifikat penghargaan.
4. Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.


cc: ediakhiles.blogspot.com

Rabu, April 03, 2013

Novel gue: Coming soon! Band Trock's

Akhirnya setelah menunggu sekian lamanya buku gue mau terbit juga. Novel gue yang pertama ini bergenre komedi. Novel ini gue bikin karena ada tawaran dari penerbit Diva Press buat bikin novel. Gue yang nggak mau ngelewatin kesempatan langka ini jelas langsung setuju. Awalnya gue cukup kesulitan bikin alur dan cari joke-joke lucu yang nggak garing. namun selama sebulan dikasih deadline gue juga nggak lupa buat banyak-banyak baca novel orang. Khususnya yang sealiran dengan gue, yaitu komedi. Gue juga bikin footnote lucu nan absburd seperti yang sering bang Adhitya Mulya lakuin. Ide ini muncul gitu aja pas waktu gue ngedit nih novel. Tapi setelah mau terbit gue malah ngerasa kalo itu malah bikin novel gue nggak ada ciri khasnya sama sekali. Tapi karena udah terlanjur dicetak dan bentar lagi mau nyebar kayak ranjau, gue pun pasrah. 

Gue kasih gambaran sedikit tentang ni novel yahhhhh. Novel ini bercerita tentang perjuangan 3 orang cowok bersekolah di sekolah bekas khusus putri. Sehingga sekolahan ini mayoritas bergender cewek. Banyak hal yang harus mereka lalui. Dan yamg paling berat adalah perjuangan mereka buat ngebentuk ekskul Band. Ekskul yang berperikejantanan. Maklum, ekskul di sekolah ini semuanya beraliran feminisme. Dan sebagai pria sejati, tentulah mereka berjuang buat mempertahanin jakun mereka. Gimana perjuangan mereka? apakah mereka berhasil ngebentuk band? simak aja di novel lucu yang tingkat kegokilannya berada di ambang batas ini. Nih cover penampakannya...... terbit mungkin di bulan april. Tau hilap nyaakkkk


Senin, April 01, 2013

Promo itu berkah #Aheyyy

Kali ini gue bakal promo buku antologi gue yang pertama. Ini penampakannya..........


Antologi ini lahir dari lomba cerpen #Hantugokildarijogja yang diadakan penerbit Diva press. Cerita gue masuk nominasi dan juga di daulat jadi covernya *Tereak khidmat* tuh liat ada penampakan nama gue kan? ada kan? iya kan? ada kan? wkwkwkwkwk
Jujur aja cerpen gue yang awalnya dikasih judul From Hantu To Boyband ini dibuat dengan perenungan selama satu minggu lamanya. Gue ngumpulin tenaga di gua Hira dengan burung merpati yang buat sarang di depan goa agar nggak ada yang ganggu. Bukannya apa, gue ini termasuk orang yang susah konsentrasi. masukin benang ke jarum aja gue belum mencapai hasil yang memuaskan. Namun berkat Allah yang merestui akhirnya gue bisa juga nyelesaiin cerita boyband hantu gue ini.
Novel antologi gue dan kawan-kawan ini sudah bisa didapatkan di Toko Buku. Harganya cuma 28.000. mayan harga segitu masih lebih murah dari harga bawang lohhhh?!
Jadi buat lo lo pada yang mau ngerasain adrenalin yang beda dengan ngeliat boyband versi hantu. Yang nggak ada nyebut-nyebut "You now me to wel". atau yang joget-joget senam SKJ, atau yang pake eye liner tebel, segera beli buku ini, deh. Pokoknya disini gue nampilin Boyband hantu yang kalem berestetika. Ciyuuuuusssss



Cerpen: 110,4 fm


Ini adalah cerpen sastra pertama yang gue buat. Typonya banyak beuud, males perbaiki di blog. Selama ngebuat ini otak gue mimisan, mata gue semaput. Tapi setelah jadi gue ngerasa puas aja. Perasaan puas kayak sudah numbuk puyer 50 bungkus. Puas alamiah dan natural :)

110,4 fm
credit gambar: info-dandy.blogspot.com



"  Halo ? iya saya segera kesana pak "
" Mama Adit mau es krim "
titt.. titt..titt..titt
" Bu recehnya bu "
" hahahaha "

Dunia ini begitu bising. Bising karena populasi kendaraan yang meningkat. Bising karena manusianya sangat suka berkelakar, bahkan dari hal terkecilpun. Dan bising karena itu pendapatku. Mungkin aku tidak akan berpikir demikian jika dunia tidak menggelap untukku. Akan berbeda ceritanya jika suara dan visual tampil secara konstan seperti halnya televisi, bukan radio. Dan radio itu adalah aku, yang mengandung partikel suara tanpa gambar. Tidak dapat kulihat wanita yang takut terlambat itu,hanya terdengar suaranya yang bergetar layaknya petikan senar gitar yang pernah kusentuh. Atau ekspresi anak kecil yang meminta es krim dengan lengkingan suara yang  meraung raung keras. Begitu pula pengemis yang meminta recehan dengan suara menyayat, aku ingin tahu apakah dia terlihat lebih menyedihkan dibanding tuna netra sepertiku. Juga dua gadis yang tertawa kencang disampingku, bersanding dengan jeritan klakson yang merebak. Apa yang mereka tertawakan ? mungkinkah mereka menertawaiku ?.

Alam memainkan peran dalam kegelapan. Tidak peduli seberapa banyak matahari menyalurkan cahaya, bagiku tetap gelap pekat. Dan ketika hujan turun, bunyi rintiknya terdengar seperti nyanyian parau burung gagak, suara patahan ranting juga bersaing dengan gemuruh petir yang saling menyahut. Namun tetap tak kulihat mereka semua. Hitam masih betah menjajah pandanganku.
Aku buta sejak lahir. Entah apa yang salah. Padahal kehadiranku telah dinanti oleh kedua orangtuaku. Ibu ku juga rutin meminum vitamin dan jamu agar aku nantinya terlahir sehat tanpa kekurangan. Tapi apa daya, takdir memainkan perannya disini. Aku terlahir dengan sepasang mata berpendar gelap. Posisiku yang menjadi satu-satunya orang cacat dikampungku menjadikan aku sebagai topik hangat pembicaraan mereka. Mereka bilang kebutaanku mungkin di sebabkan karena saat mengandungku, ayah sibuk memburu ikan dengan tombak panjang yang langsung menghunus tepat di mata ikan buruannya. Sebuah mitos yang sama konyolnya dengan teori revolusi Darwin. Bagaimana mungkin mata ikan yang bahkan tidak pernah berkedip disamakan dengan mataku. Mereka juga bilang bahwa mataku diambil oleh mahluk halus penunggu jembatan layang di kampung kami, sebagai tumbal agar jembatan itu tetap kokoh. Dan yang paling tidak logis, mereka mengatakan bahwa kebutaanku ini menular. Ibuku hanya mengusap dada mendengarnya. Namun terkadang, bila kadar kesabaranya dibawah normal ibu tak sungkan menceramahi mereka sambil berkacak pinggang.
" Apa kalian sudah membaca koran hari ini ? disitu disebutkan bahwa membicarakan orang lain tanpa kebenaran dapat dikenakan pasal pencemaran nama baik." aku selalu tertawa tatkala mendengarnya. Ibuku adalah mataku yang sebenarnya. Dia yang mengajari aku melihat dengan imajinasi. Orang yang buta sejak lahir sepertiku menggunakan bagian visual dari otak. untuk menyempurnakan sensasi terhadap suara dan sentuhan yang kurasakan. ibuku juga membantuku berjalan dengan pikiran, menggunakan navigasi otak untuk mengetahui tata letak. Ibuku juga memberikan teman untukku, sebuah radio. Benda dari komponen besi itu mengeluarkan alunan melodi yang terdengar merdu menari-nari di selaput daun telinga. Menaburkan benih-benih nada yang saling bercumbu dalam getar instrument. Terkadang radio itu juga mengeluarkan suara dengan intonasi tegas. Menggulirkan kabar  peristiwa yang terjadi setiap hari di dunia. Aku sangat menyukai radioku ini. Hampir tak pernah aku meninggalkannya. Darinyalah aku bisa melihat dunia dengan perspektifku sendiri. Namun hidup memanglah tidak sederhana. Tidak kudengar deraian tawa ibu lagi saat nyawa ayah terenggut paksa oleh selongsong peluru. Ayah mati ketika berusaha mempertahankan lahan garapannya yang diklaim PT BMS, sebuah pabrik kelapa sawit. Ibu pun terpuruk dalam kekalutannya, sampai akhirnya, perlahan sebuah virus kanker menggerogoti payudaranya sehingga meninggalkan borok. Menambah daftar manusia yang mati akibat kanker jahanam ini. Hatiku terbakar pedih, kini hanya aku dan radioku yang mengumandangkan frekuensi 110,4 fm pop radio-saluran favoritku- tengah duduk diantara keramaian Terminal.
"Aaliyah" pekik seseorang, aku mengenal betul suara ini, suara berat seperti erangan beruang namun manja bagai kicau burung pipit. Dia Anisa sahabatku.
"Apa kamu nunggu lama?" tanyanya, napasnya tersengal.
"Setidaknya kamu masih lebih cepat dari bis," ucapku seraya tersenyum. Dapatku dengar helaan nafas leganya. dia lalu menggamit tanganku. Aku beranjak lalu mematikan radioku yang sedari tadi menyala.
"Pasti pop fm". tebak Anisa, dia pasti merujuk radio yang aku genggam ini.
"Yah, calon tempatku bekerja. suatu hari aku akan menjadi penyiar disana." ya, itu cita-citaku. Menjadi penyiar di radio dimana sebagian hidupku tercurah padanya. Anisa menepuk bahuku
" Aku yakin kamu bisa," ujarnya dengan bunyi sehalus kapas. Anisa, mungkin dia adalah orang yang dikirim tuhan untuk menggantikan posisi ibuku. Pertama kali bertemu dengannya juga karena radio ini. Kala itu seorang pencuri putus asa berusaha mengambil radio ini dari ku, aku menjerit tak karuan. aku berusaha mengejar pencuri itu, dan usahaku itu sukses membuatku jatuh berkali-kali. Sampai akhirnya telingaku menangkap suara meminta ampun dari pencuri itu. Tak lama seseorang dengan tangannya yang lembut meraih tanganku, menelungkupkan radio di atasnya. Sejak saat itu waktu memainkan perannya. Layaknya benang yang menenun kain ikatan kami berdua. Anisa telah menjadi bagian dari unsur inderaku. Kami bagai buaya dan burung plover, ikatan yang saling membutuhkan dan menguntugkan. Setiap hari Anisa tak pernah absen menjemputku pulang dari kursus khusus tuna netra. Banyak hal yang kami lakukan bersama. Dia sering mendeskripsikan penghuni dunia beserta isinya padaku. Dia Kami saling bercerita mengenai kehidupan masing-masing. Dan dari sinilah aku tahu kalau anisa juga hidup sendiri, ayahnya seorang polisi yang bertugas di daerah konflik. Sementara ibunya berada di kampung asalnya di ngawi. Dikota ini dia berteman dengan asap pabrik yang menjunjung, berilmu dari gedung tinggi menjulang. anisa juga meangkap sebagai penata riasku.
"Kamu tahu Esref Armagan ? dia adalah pelukis yang buta. Dia menggambar sesuatu yang bahkan belum di lihatnya. Atau Hellen Kehler, dia buta, tuli dan bisu. Tetapi dia mampu mendapat gelar sarjana. dengan kemauan kamu mampu menembus penjara gelap milikmu Aaliyah" ucap Anisa dengan intonasi yang dramatis. Aku tahu dia akan berkata begitu, kalimat itu sering kudengar saban hari sejak kami mulai bersahabat. Satu hal yang menjadi persamaan kami berdua. Yang membuat kami lebih bekat secara emosional. Kami sama-sama berisik.
***
Derik jangkrik hampir mendominasi indera pendengarku. Hampir mirip dengan bunyi saluran radio yang frekuensinya terganggu. Aku duduk di salah satu bangku terminal yang kini lengang. Tanganku mengepal selembar kertas yang sudah lusuh. Perlengkapan aksi unjuk rasaku di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat tadi siang. Aku bersama aliansi tuna netra menuntut pemerintah tentang minimnyaa fasilitas pendukung bagi tuna netra di tempat umum. Tenggorokanku tercekat, kering kerontang seperti kue yang terlalu lama dipanggang. Ini akibat dari luapan semangatku saat mengeluarkan orasi tuntutan. Tuntutan yang mewakili aspirasi seluruh teman senasib denganku di seluruh Indonesia.
"Aaliyah.." suara Anisa mendekat, menghampiriku yang sedari tadi diselimuti angin. Tadi saat aku mengabarinya, Anisa memaksa akan menjemputkan. Dia tidak mengizinkanku pulang sendirian karena hari sudah larut malam. Apa benar sudah selarut itu?, aku tak tahu. Tapi yang jelas dunia memang tidak sebising biasanya.
" Wah.. sekarang kamu sudah seperti seorang aktivis mahasiswa." Anisa menggodaku, Aku balas dengan mencubitnya. Dia meringis lalu dengan cepat menggelayutkan tangannya yang mungil di tanganku, menyusuri jalanan yang tidak rata ini. aku mencium aroma menyengat, baunya menulusup hingga membuat rongga napasku bergeliyat. Kurasa bau itu bersumber dari Anisa. Berapa botol dia mengguyuri tubuhnya dengan minyak wangi hingga menciptakan bau yang bisa membuat hidung meleleh. Tidak hanya itu, aku juga mendengar hentakan sepatu, hentakan yang hanya bisa dihasilkan oleh sepatu dengan hak tinggi.
"Setampan apa pria ini?" aku memecah keheningan, tidak biasa Anisa alim begini.
" Apa?!" dia tak mengerti
" Pria yang membuat kamu berdandan total seperti pemaisuri ini?!" ucapku memberi penegasan. Anisa hanya terkekeh geli. mengeluarkan riak-riak suara yang manja.
"Aku sedang berkerja."
"Kalau kamu bekerja, lalu apa yang kamu lakukan disini?" aku tersentak, apa dia meninggalkan pekerjaanya demi aku?
" Tentu saja menjemputmu bodoh, huh terbuat dari apa isi kepalamu ini?" ucapnya sembari mengelus kepalaku lembut.
" Nis, jadi kamu meninggalkan pekerjaanmu un.. nging.. ngung.. nging.. ngung.. jem nging.. ngung.. ku ?" suaraku tergusur oleh suara sirene yang aku tidak ketahui berasal dari ambulan atau mobil polisi. Tapi Anisa secepat kilat melepaskan pelukan tangannya dari tanganku membuat tubuhku terhempas beberapa senti. Aku tersentak kaget. Perlahan suara hentakan sepatu Anisa semakin menjauh. disusul suara derapan yang sangat kencang mulai mendekat dari belakang. Suara sirene melonglong meramaikan suasana. Aku bisa merasakan kehadiran manusia dalam jumlah banyak. Orang-orang dengan derap kencang itu. Aku mematung, mulai mencerna setiap bunyi yang berseliweran di sekitarku. Dan yang terpenting dimana Anisa ? kenapa dia harus melarikan diri ?
" Hei kalian jangan berlari..!!" teriak seseorang kalap dengan suara bagai terompet. Keras mengaum. dan bukan bunyi yang bagus untuk telinga. Sayup sayup suara memohon dilepaskan terdengar bercampur dengan suara pemberontakkan yang melengking nyaring. Diantara suara itu aku mencari suara Anisa. Hatiku mulai digiring memasuki area cemas karena kegaduhan seperti ini. Suasana kacau dan lebih bising dari biasanya.  Jantungku berpacu,  bola mataku bergerak tak karuan. Sampai akhirnya aku menangkap suara Anisa. Samar, namun masih dengan jelas kudengar.
"lepaskan saya pak..! saya tidak mau." jeritnya pilu. dadaku berdesir, ingin segera kutolong sahabatku itu. Aku yakin dia tidak melakukan hal yang salah. Aku meraba apapun yang bisa kusentuh. Mencoba mendekatkan diri kearah suara Anisa. Sampai suara itu datang meruntuhkan keyakinanku.
"Apa yang kau lakukan andi ? kamu putra ayah satu-satunya! dan sekarang kamu seperti seekor ikan yang terperangkap di jala milik ayahmu sendiri!"
"Namaku Anisa ayah. jangan panggil aku andi."  apa? apa yang dia katakan ? alisku bertaut.
"Dasar banci perusak moral" lalu terdengar suara tamparan disusul suara erangan. Aku tersentak hingga membuat kelopak-kelopak hatiku berguguran. Dialog yang kudengar barusan seperti sebuah remote yang dikontrol untuk membuatku mati rasa. Aku lemas, kedua tulang keringku seakan tidak kuasa menopang bobot tubuhku. Mataku perih, tak dapat kucegah lagi bulir-bulir air yang menerobos ingin keluar dari kedua mataku. Seseorang menghampiriku, mungkin salah satu petugas itu. Dia memapah tubuhku. lalu menanyakan bagaimana keadaanku. aku hanya terdiam. pergumulan didadaku bagai sebuah gempa yang berskala besar, menggetarkan tubuhku hingga luruh ke tanah. kemudian suara yang aku kenal betul menyeruak. Suara berat bagai erangan beruang namun manja bagai kicau burung pipit. Tapi sekarang suara manja yang bagai kicau burung pipit tak terdengar. Hanya suara berat bagai erangan beruang yang berkata
"Maaf "
***
Aku terus menerus mengutuki kejadian malam itu. Malam pucat penuh kegusaran. Malam dimana ayah menunaikan tugasnya sebagai polisi pamong praja. Dibawah tahta rembulan dengan cahaya putih berpendar perak, gadis itu tampak kalut bersimbah air mata mengetahui kalau aku,Anisa sahabatnya adalah seorang waria bernama Andi Firmansyah di aktenya. Dari kecil aku memang lebih tertarik dengan sosok putri dan pangeran yang di setiap cerita akan berakhir hidup bahagia selamanya dibanding sekelompok pahlawan super hero yang sibuk bergumul dengan monsternya. Namun aku pun tak ingin seperti ini. Siapa yang mau hidup dimana kau bahkan tidak menginginkan fisikmu yang telah dikaryakan oleh tuhan ?. Dimalam yang sunyi itu. Diiringi angin yang bersiul pelan. juga dengungan nyamuk yang bersenyawa dengan kabut, aku bersama beberapa PSK dan waria lain yang terjaring razia dibawa menggunakan mobil dengan deru mesin yang bergemuruh.
Aaliyah Kamila namanya. Aaliyah berarti tinggi dan mulia sedang Kamila yang berarti sempurna. Dia sahabatku yang menetap  didunia hitam miliknya, hitam yang sebenarnya. Sementara aku jatuh ke dunia hitam milikku, hitam yang bertanda kutip, bersifat kekal dan abadi jika dia tidak mewarnai hitam itu. Awalnya aku menyukai kebersamaan dengannya karena di depannya aku bisa menjadi wanita seuutuhnya. Itu karena dia buta. Tidak dapat melihat ragaku yang tertanam jakun ini. Namun perlahan dengan sikap optimisnya, sifat berisiknya dan mata yang mengeluarkan binar indah, dia mulai menjadi pensil yang menggoreskan warnanya diatas lembaran hidupku yang hitam. Dan akupun berhasrat melakukan hal yang serupa, mewarnai dunianya yang hitam karena ketidakberdayaan. Tapi sudah tujuh bulan sejak kejadian malam itu aku tak tahu kabarnya. Lagipula mungkin Aaliya sudah menyisihkan aku dari memorinya. Siapa yang mau menerima orang sepertiku, setelah tahu semuanya dia mungkin bergidik jijik saat bersua denganku. Aku menatap cermin tampak seorang pria berwajah tirus, dengan rambut ikal tertutup seonggok peci yang melekat di kepalanya. Pakaian putih seputih kapas dan sehalus porselene melekat di badannya yang kurus. Sementara kakinyaa terjuntai sarung bermotif  kotak. Aku menghempaskan napasku, kalau ayah tidak mengirimku ke pesantren ini , aku mungkin tidak akan pernah menggunakan pakaian yang tidak modis begini. Aku menggerakkan tanganku ke arah tombol ON radio. Segera benda kecil itu mengeluarkan senandung lagu 'Separuh Aku' dari band Noah. Lagu itu mengalun lembut menggertarkan dinding-dinding kamarku. Aku merenung, andai saja aku bisa berdamai dengan waktu, berkoalisi dengan takdir dan terikat dengan hati. Dadaku sesak, betapa mudahnya ketiga komponen itu mempermainkanku. Aku berusaha memejamkan mataku saat suara Ariel telah tergerus oleh suara halus nan indah. Suara itu tidak hanya menguasai seisi kamarku, tapi juga seluruh sel-sel tubuhku. Mataku melotot, jantungku gegap gempita. Dengingan laron serta derik kunang pun tertimbun oleh suara berisik itu. Suara Aaliyah Kamila.
“Selamat malam dan salam sejahtera untuk pendengar setia kami. Bertemu lagi dengan saya Aliyah. di 110,4 fm pop radio. Selama dua jam kedepan saya akan menemani para pendengar dalam segment curhat bersama Aaliyah. Hari ini topik yang akan dibahas mengenai  persahabatan. Namun sebelum memulai acara ini saja izinkan mengatakan sesjatu untuk sahabat saya. Hmm.. aku hanya ingin bilang kalau aku merindukanmu. Kau tidak hanya sekedar teman bagiku kau adalah panca  inderaku yg kelima. Aku tidak peduli kau Anisa atau Andi. Yang aku tahu kau adalah orang yang menemaniku selama ini.”
Aku terkesiap. Perlahan kedua airmata menggenang dari kedua mataku. Memang hanya Aliyah yang bisa menerima diriku lebih dari siapapun.
fin

Butuh donasi koment! Segera!!!

CerKom : Move On Mabrur

Move on Mabrur : The story Of Gigi



Secara umum move on terbagi menjadi tiga. Yang pertama adalah move on sugra yaitu move on yang kecil-kecil, misalnya ngehibur diri dengan dengerin musik dangdut koplo, nonton infotainment. Yang kedua adalah move on kubra yaitu tindakan move on yang besar. Misalnya move on dengan ngerampok bank, berburu pacar selusin, dan teriak-teriak di jembatan layang dengan orasi "Turunkan angka kegalauan, #hidupmoveon". Yang terakhir adalah move on mabrur, spesifikasi move on yang datengin uang. Misalnya waktu mau move on nulis lagu, waktu move on nulis buku, waktu move on main sulap, tepatnya sulap ngilangin mantan.
Si Rohmat cucu dari Haji Rohim mempunyai visi yang mulia. Dia kepengen masuk dalam golongan move on mabrur. Oleh karena itu dia nulis buku biografinya yang berjudul “Rohmat : perjalanan jomblo permanen”. Buku ini adalah kisah hidupnya yang terangkum selama 21 tahun menyandang status jomblo. Beserta nyesek dan ngenesnya yang semua tumbuh jadi satu.
Cerita Rohmat yang sarat hikmah ini dimulai saat dia kelas dua SMP. Saat itu teman-temannya pada pamer pacar. Rohmat yang kesel pun langsung pulang ke rumah. Dia teriak-teriak sama Emak yang lagi blender jahe.
"MAK... Beliin aye pacar mak!! temen aye pada punya tuh." Blender jahe itu langsung melayang ke kepala Rohmat. Musim-musim pun berlalu, mulai dari musim tomcat, musim jupe depe cakaran sampe musim rainbow cake. Akhirnya Rohmat duduk di bangku SMA, yang langsung disambut ocehan Riko karena bangku yang di duduki Rohmat punya dia. Pelan tapi pasti Rohmat pun mulai berevolusi jadi cowok yang ngerti apa itu dunia percintaan. Itu juga setelah baca kamus besar bahasa inggris. Namun fakta lain tersingkap, saat dia ngerti dunia percintaan, dia jadi ngerti apa arti pacar, saat dia ngerti pacar dia juga jadi ngerti kenapa dia belum punya pacar. Sebab musababnya adalah gigi maha akbar yang bertengger unyu di mulutnya ini. gigi yang kata Ucok bisa buat landasan pacu pesawat. Tapi Rohmat nggak patah arang. segala perawatan buat nginclongin giginya dia lakuin. Mulai dari manicure, smoothing, creambat dan lain-lain, dia jabanin. Kalo pun giginya adalah landasan pacu pesawat maka harus jadi landasan pacu yang berstandar internasional.
Tapi pacar tak kunjung tiba, hanya penolakan dari sana sini yang datang silih berganti. Dan yang paling nyesek adalah penolakan dari Siska, cewek OSIS yang cantik, imut, tinggi 150 cm. Dia nolak Rohmat. Dengan seperangkat tulisan yang mejeng di mading.
"To Rohmat,, aku nggak bisa terima cinta kamu. Aku nggak tahan tiap ketemu kamu, minus di mata aku jadi nambah. Dokter kulitku bilang kalo mata aku tuh harus di sterilin dari yang silau-silau. Nah gigi kamu itu masuk dalam kategori yang silau-silau itu, mana nggak bisa mingkem lagi." Rohmat langsung stroke. Tuh kan bener giginya ini biang masalah. Rohmat lalu mengadukan nasibnya pada semangkuk bakso di kantin.
"Ya bakso, kenapa ?!.. kenapa gue harus menyandang gigi ini," ucapnya dramatis. Petir menggelegar, ilalang bergoyang. "Tapi, ngapain juga gue cerita ke elo? elo kan nggak punya gigi, so," Rohmat sadar, salju turun, bunga sakura berjatuhan.
"Lo nggak ngerti bak, gimana nih gigi nyiptain kesialan bagi gue. Ah, udahlah lo lebih berguna kalo gue makan so," dia memakan semangkuk bakso itu dengan segenap jiwanya. Kemudian ungkapan empati berdatangan. Menganggu konsentrasi Rohmat yang ingin berduaan dengan baksonya.
"Sabar aja Roh, tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan kok."  <= Klise
"Wanita itu emang racun dunia. Sebagai penerus bangsa jangan sampe kita di intervensi sama mereka. Mereka harus di bumi hanguskan." <= Radikal
"Tenang aja Roh, masih banyak cewek lain bro. Kalo gitu biar gue yang bayarin bakso lo yah.. satu biji doang, hahahahah" <= Mati aja elo
Ucapan simpati terus berdatangan. Apalagi saat 2 bulan kemudian Rohmat kembali di tolak cewek. Sebut saja Devi, 16 tahun, akun twitter @devidifolback_dunk. Tapi seenggaknya kali ini cara devi lebih manusiawi buat nolak Rohmat. Dia langsung face to face.
"Rohmat sorry yah, gue rasa cuma karena cara pandang kita aja yg beda. Cara pandang gue tuh, pacar gue mukanya harus bertipe artis Korea atau Hollywood. Nyerempet ke India juga nggak masalah,sih." Ini nih dampak negatif dari film import. Memanipulasi standar cewek terhadap fisik cowok. Dan bagi cowok yang mukanya terlanjur pas-pasan, ini merupakan endemi.
Rohmat kemudian melanjutkan sisa-sisa SMA nya dengan nggak nembak cewek lagi. Selain takut, ditolak dia juga terlampau minder sama giginya yang nyembul ini. Waktu valentine, saat temen-temennya pada nerima coklat dia malah nerima kiriman bunga duka cita. Saat temen-temennya pada takut isu kiamat 2012 dengan bilang, "Nanti dong kiamat, belum nikah nih," Rohmat malah seneng. Seenggaknya kalo malaikat di akhirat nanya statusnya dia bakal bilang, "Belum nikah malaikat, abis kiamatnya dadakan sih."
Akhirnya acara lulus-lulusan tiba, ditandai dengan tersematnya gelar 'Jomblo Permanen' buat Rohmat. Dan sekarang, di usianya yang ke-21 Rohmat hendak membagi kisahnya ini agar menjadi pembelajaran bagi kita semua ke dalam bentuk sebuah buku.
***
Tangisan Rohmat ngalahin orkes soneta. Bukan karena ditolak cewek (Lagi), tapi karena ditolak penerbit. Naskah yang udah ngabisin 6 bulan dalam hidupnya. Naskah yang udah ngerampok kantongnya biar bisa di print di tolak mentah-mentah. 5 menit yang lalu Rohmat dapet email dari penerbit yang dia kirimin naskahnya. Email yang 2 menit kemudian berubah jadi virus yang ngebuat Rohmat katarak. Selamat tinggal move on mabrur, selamat datang lembah kegalauan. Rohmat pun mengeluh kesah pada segelas es doger.
"Kenapa?!.. kenapa sih dog, gue selalu akrab sama yang namanya penolakan?!" ucap Rohmat melankolis. Air di selat sunda langsung berombak. "Ah udahlah, knapa juga gue cerita ama elo ger, elo kan nggak bisa nulis buku," bentaknya, sambil segera ngabisin es doger yang tak berdaya itu dengan sadisnya. Tiba-tiba suara HP Rohmat bunyi. Matanya langsung berbunga seroja begitu ngeliat nama yang terpampang di layar. RENA.
"Halo, Ren, ada apa?" suara Rohmat jadi lunak lembek gitu.
"Ngga! lagi pengen aja," jawab Rena berhenti sejenak. Agak ragu sedikit lalu mulai nyalip, "Hmm.. Kevin, minggu nanti kita ketemuan yah?"
"Ke..te..mu..an," Rohmat geragapan
"Iya, pokoknya mau yah. Jam 7 di taman deket kampus, okeh!" KLIK,, telepon terputus secara sepihak.
Rohmat membatu. Pikirannya masih mencerna kata-kata Rena tadi. Rena ngajak ketemuan? GAWAAAATTT!! Kalo beneran kejadian, penyamarannya sebagai Kevin bakal kebongkar. Rentetan peristiwa penolakan yang dialami Rohmat sepanjang hayatnya ini dia jadiin referensi. Oleh karena itu dia masih minder dan takut ditolak (lagi). Itulah kenapa saat dia menyukai Rena teman satu kampusnya, dia lebih milih bergerilya. Sembunyi-sembunyi kayak teroris. Pake identitas palsu kayak teroris juga. Dan sekarang Rena malah ngajak ketemuan. Kejadian yang secara nggak langsung ngebuat Rohmat keder. Lamunan Rohmat diusik oleh suara Bang Juhi yang rame, "Es doger goceng, NO KREDIT NO BON!!"
****
"Menurut gue, elo ngaku aja. Sampe kapan elo mau idup dalam ngumpet-ngumpek kagak jelas," Saran pakar telematika yang identitasnya nggak bakalan penting juga.
"Anggap aja posisi elo itu kayak nenek-nenek yang ketahuan kalo giginya ternyata palsu semua. Nggak ngaruh kan?" ini kata ahli astronomi yang sama nggak pentingnya.
Akhirnya dengan tekad ngusir penjajah, Rohmat pun pergi ke taman yang disebut Rena. Setelannya rapi, giginya bahkan dipakein lipgloss biar rada-rada mengkilap. Di malam yang hitam persis kopi luwak black coffee, Rohmat menyusuri jalan setapak menuju taman itu. Dia cemas, takut, keringetnya terus netes. Gimana kalo Rena marah dan nggak terima dia? Atau nanti dia di tampar? Penolakan bukunya buat diterbitin udah terlampau sakit, gimana nanti dengan ini? Pertanyaan yang nggak ada kunci jawabannya itu terus joget-joget erotis dipikirannya.
Rohmat sampai, sosok Rena dari penampakkan belakang sudah keliatan. Jantung Rohmat makin berpacu. Dia hendak berjalan mendekat saat tiba-tiba Rena menoleh. Tatapan mereka beradu.
"Kayaknya gue salah jalan deh," ucap Rohmat nyela, dia langsung berbalik arah.
"Tuh kan elo Rohmat. Dari dulu gue udah ngira kalo Kevin dan Rohmat adalah orang yang sama," Jelas Rena ngebuat Rohmat tersentak. "Padahal gue udah duluan suka elo sebagai Rohmat, tapi karena sikap elo yang nggak ada respon, gue pelan-pelan mundur."
Rohmat nyimak, nggak gue waktu itu terlalu takut, ren, desis dalam hati.
"Seandainya aja elo punya sedikiiiiiit kepercayaan diri mungkin ceritanya bakal lain." Muka Rena merah nahan boker, eh emosi.  Kemudian dia pergi ninggalin Rohmat yang masih cengo dengan kejadian tadi. Petir menggelegar, ilalang bergoyang, kemudian salju turun serta bunga sakura berjatuhan mengiringi tangisan khidmat Rohmat.
****
"Halo, ini mas Rohmat. Kami dari penerbit Gerahdeh bersedia menerbitkan buku anda yang berjudul 'Syukapada' alias syukuri apa yang ada. untuk lebih lanjut kita hubungin nanti yah, makasih."
Senyum Rohmat otomatis mengembang sampe kuping saking lebarnya. Dia girang. Buku yang di dedikasikan teruntuk giginya ini terbit juga. Rohmat pun meluapkan perasaannya pada sepiring siomay.
"May, gue nggak peduli elo nggak punya gigi atau nggak bisa nulis buku. Gue cuma mau bilang kalo gue.. nggak ditolak lagi sio, buahahahaha." Rohmat bahagia penuh makna. Akhirnya, sekarang dia udah menunaikan visinya untuk masuk ke dalam golongan move on mabrur.


Nggak koment bakalan jadi 4l4y abadi sepanjang hayat.....