Senin, April 01, 2013

Cerpen: 110,4 fm


Ini adalah cerpen sastra pertama yang gue buat. Typonya banyak beuud, males perbaiki di blog. Selama ngebuat ini otak gue mimisan, mata gue semaput. Tapi setelah jadi gue ngerasa puas aja. Perasaan puas kayak sudah numbuk puyer 50 bungkus. Puas alamiah dan natural :)

110,4 fm
credit gambar: info-dandy.blogspot.com



"  Halo ? iya saya segera kesana pak "
" Mama Adit mau es krim "
titt.. titt..titt..titt
" Bu recehnya bu "
" hahahaha "

Dunia ini begitu bising. Bising karena populasi kendaraan yang meningkat. Bising karena manusianya sangat suka berkelakar, bahkan dari hal terkecilpun. Dan bising karena itu pendapatku. Mungkin aku tidak akan berpikir demikian jika dunia tidak menggelap untukku. Akan berbeda ceritanya jika suara dan visual tampil secara konstan seperti halnya televisi, bukan radio. Dan radio itu adalah aku, yang mengandung partikel suara tanpa gambar. Tidak dapat kulihat wanita yang takut terlambat itu,hanya terdengar suaranya yang bergetar layaknya petikan senar gitar yang pernah kusentuh. Atau ekspresi anak kecil yang meminta es krim dengan lengkingan suara yang  meraung raung keras. Begitu pula pengemis yang meminta recehan dengan suara menyayat, aku ingin tahu apakah dia terlihat lebih menyedihkan dibanding tuna netra sepertiku. Juga dua gadis yang tertawa kencang disampingku, bersanding dengan jeritan klakson yang merebak. Apa yang mereka tertawakan ? mungkinkah mereka menertawaiku ?.

Alam memainkan peran dalam kegelapan. Tidak peduli seberapa banyak matahari menyalurkan cahaya, bagiku tetap gelap pekat. Dan ketika hujan turun, bunyi rintiknya terdengar seperti nyanyian parau burung gagak, suara patahan ranting juga bersaing dengan gemuruh petir yang saling menyahut. Namun tetap tak kulihat mereka semua. Hitam masih betah menjajah pandanganku.
Aku buta sejak lahir. Entah apa yang salah. Padahal kehadiranku telah dinanti oleh kedua orangtuaku. Ibu ku juga rutin meminum vitamin dan jamu agar aku nantinya terlahir sehat tanpa kekurangan. Tapi apa daya, takdir memainkan perannya disini. Aku terlahir dengan sepasang mata berpendar gelap. Posisiku yang menjadi satu-satunya orang cacat dikampungku menjadikan aku sebagai topik hangat pembicaraan mereka. Mereka bilang kebutaanku mungkin di sebabkan karena saat mengandungku, ayah sibuk memburu ikan dengan tombak panjang yang langsung menghunus tepat di mata ikan buruannya. Sebuah mitos yang sama konyolnya dengan teori revolusi Darwin. Bagaimana mungkin mata ikan yang bahkan tidak pernah berkedip disamakan dengan mataku. Mereka juga bilang bahwa mataku diambil oleh mahluk halus penunggu jembatan layang di kampung kami, sebagai tumbal agar jembatan itu tetap kokoh. Dan yang paling tidak logis, mereka mengatakan bahwa kebutaanku ini menular. Ibuku hanya mengusap dada mendengarnya. Namun terkadang, bila kadar kesabaranya dibawah normal ibu tak sungkan menceramahi mereka sambil berkacak pinggang.
" Apa kalian sudah membaca koran hari ini ? disitu disebutkan bahwa membicarakan orang lain tanpa kebenaran dapat dikenakan pasal pencemaran nama baik." aku selalu tertawa tatkala mendengarnya. Ibuku adalah mataku yang sebenarnya. Dia yang mengajari aku melihat dengan imajinasi. Orang yang buta sejak lahir sepertiku menggunakan bagian visual dari otak. untuk menyempurnakan sensasi terhadap suara dan sentuhan yang kurasakan. ibuku juga membantuku berjalan dengan pikiran, menggunakan navigasi otak untuk mengetahui tata letak. Ibuku juga memberikan teman untukku, sebuah radio. Benda dari komponen besi itu mengeluarkan alunan melodi yang terdengar merdu menari-nari di selaput daun telinga. Menaburkan benih-benih nada yang saling bercumbu dalam getar instrument. Terkadang radio itu juga mengeluarkan suara dengan intonasi tegas. Menggulirkan kabar  peristiwa yang terjadi setiap hari di dunia. Aku sangat menyukai radioku ini. Hampir tak pernah aku meninggalkannya. Darinyalah aku bisa melihat dunia dengan perspektifku sendiri. Namun hidup memanglah tidak sederhana. Tidak kudengar deraian tawa ibu lagi saat nyawa ayah terenggut paksa oleh selongsong peluru. Ayah mati ketika berusaha mempertahankan lahan garapannya yang diklaim PT BMS, sebuah pabrik kelapa sawit. Ibu pun terpuruk dalam kekalutannya, sampai akhirnya, perlahan sebuah virus kanker menggerogoti payudaranya sehingga meninggalkan borok. Menambah daftar manusia yang mati akibat kanker jahanam ini. Hatiku terbakar pedih, kini hanya aku dan radioku yang mengumandangkan frekuensi 110,4 fm pop radio-saluran favoritku- tengah duduk diantara keramaian Terminal.
"Aaliyah" pekik seseorang, aku mengenal betul suara ini, suara berat seperti erangan beruang namun manja bagai kicau burung pipit. Dia Anisa sahabatku.
"Apa kamu nunggu lama?" tanyanya, napasnya tersengal.
"Setidaknya kamu masih lebih cepat dari bis," ucapku seraya tersenyum. Dapatku dengar helaan nafas leganya. dia lalu menggamit tanganku. Aku beranjak lalu mematikan radioku yang sedari tadi menyala.
"Pasti pop fm". tebak Anisa, dia pasti merujuk radio yang aku genggam ini.
"Yah, calon tempatku bekerja. suatu hari aku akan menjadi penyiar disana." ya, itu cita-citaku. Menjadi penyiar di radio dimana sebagian hidupku tercurah padanya. Anisa menepuk bahuku
" Aku yakin kamu bisa," ujarnya dengan bunyi sehalus kapas. Anisa, mungkin dia adalah orang yang dikirim tuhan untuk menggantikan posisi ibuku. Pertama kali bertemu dengannya juga karena radio ini. Kala itu seorang pencuri putus asa berusaha mengambil radio ini dari ku, aku menjerit tak karuan. aku berusaha mengejar pencuri itu, dan usahaku itu sukses membuatku jatuh berkali-kali. Sampai akhirnya telingaku menangkap suara meminta ampun dari pencuri itu. Tak lama seseorang dengan tangannya yang lembut meraih tanganku, menelungkupkan radio di atasnya. Sejak saat itu waktu memainkan perannya. Layaknya benang yang menenun kain ikatan kami berdua. Anisa telah menjadi bagian dari unsur inderaku. Kami bagai buaya dan burung plover, ikatan yang saling membutuhkan dan menguntugkan. Setiap hari Anisa tak pernah absen menjemputku pulang dari kursus khusus tuna netra. Banyak hal yang kami lakukan bersama. Dia sering mendeskripsikan penghuni dunia beserta isinya padaku. Dia Kami saling bercerita mengenai kehidupan masing-masing. Dan dari sinilah aku tahu kalau anisa juga hidup sendiri, ayahnya seorang polisi yang bertugas di daerah konflik. Sementara ibunya berada di kampung asalnya di ngawi. Dikota ini dia berteman dengan asap pabrik yang menjunjung, berilmu dari gedung tinggi menjulang. anisa juga meangkap sebagai penata riasku.
"Kamu tahu Esref Armagan ? dia adalah pelukis yang buta. Dia menggambar sesuatu yang bahkan belum di lihatnya. Atau Hellen Kehler, dia buta, tuli dan bisu. Tetapi dia mampu mendapat gelar sarjana. dengan kemauan kamu mampu menembus penjara gelap milikmu Aaliyah" ucap Anisa dengan intonasi yang dramatis. Aku tahu dia akan berkata begitu, kalimat itu sering kudengar saban hari sejak kami mulai bersahabat. Satu hal yang menjadi persamaan kami berdua. Yang membuat kami lebih bekat secara emosional. Kami sama-sama berisik.
***
Derik jangkrik hampir mendominasi indera pendengarku. Hampir mirip dengan bunyi saluran radio yang frekuensinya terganggu. Aku duduk di salah satu bangku terminal yang kini lengang. Tanganku mengepal selembar kertas yang sudah lusuh. Perlengkapan aksi unjuk rasaku di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat tadi siang. Aku bersama aliansi tuna netra menuntut pemerintah tentang minimnyaa fasilitas pendukung bagi tuna netra di tempat umum. Tenggorokanku tercekat, kering kerontang seperti kue yang terlalu lama dipanggang. Ini akibat dari luapan semangatku saat mengeluarkan orasi tuntutan. Tuntutan yang mewakili aspirasi seluruh teman senasib denganku di seluruh Indonesia.
"Aaliyah.." suara Anisa mendekat, menghampiriku yang sedari tadi diselimuti angin. Tadi saat aku mengabarinya, Anisa memaksa akan menjemputkan. Dia tidak mengizinkanku pulang sendirian karena hari sudah larut malam. Apa benar sudah selarut itu?, aku tak tahu. Tapi yang jelas dunia memang tidak sebising biasanya.
" Wah.. sekarang kamu sudah seperti seorang aktivis mahasiswa." Anisa menggodaku, Aku balas dengan mencubitnya. Dia meringis lalu dengan cepat menggelayutkan tangannya yang mungil di tanganku, menyusuri jalanan yang tidak rata ini. aku mencium aroma menyengat, baunya menulusup hingga membuat rongga napasku bergeliyat. Kurasa bau itu bersumber dari Anisa. Berapa botol dia mengguyuri tubuhnya dengan minyak wangi hingga menciptakan bau yang bisa membuat hidung meleleh. Tidak hanya itu, aku juga mendengar hentakan sepatu, hentakan yang hanya bisa dihasilkan oleh sepatu dengan hak tinggi.
"Setampan apa pria ini?" aku memecah keheningan, tidak biasa Anisa alim begini.
" Apa?!" dia tak mengerti
" Pria yang membuat kamu berdandan total seperti pemaisuri ini?!" ucapku memberi penegasan. Anisa hanya terkekeh geli. mengeluarkan riak-riak suara yang manja.
"Aku sedang berkerja."
"Kalau kamu bekerja, lalu apa yang kamu lakukan disini?" aku tersentak, apa dia meninggalkan pekerjaanya demi aku?
" Tentu saja menjemputmu bodoh, huh terbuat dari apa isi kepalamu ini?" ucapnya sembari mengelus kepalaku lembut.
" Nis, jadi kamu meninggalkan pekerjaanmu un.. nging.. ngung.. nging.. ngung.. jem nging.. ngung.. ku ?" suaraku tergusur oleh suara sirene yang aku tidak ketahui berasal dari ambulan atau mobil polisi. Tapi Anisa secepat kilat melepaskan pelukan tangannya dari tanganku membuat tubuhku terhempas beberapa senti. Aku tersentak kaget. Perlahan suara hentakan sepatu Anisa semakin menjauh. disusul suara derapan yang sangat kencang mulai mendekat dari belakang. Suara sirene melonglong meramaikan suasana. Aku bisa merasakan kehadiran manusia dalam jumlah banyak. Orang-orang dengan derap kencang itu. Aku mematung, mulai mencerna setiap bunyi yang berseliweran di sekitarku. Dan yang terpenting dimana Anisa ? kenapa dia harus melarikan diri ?
" Hei kalian jangan berlari..!!" teriak seseorang kalap dengan suara bagai terompet. Keras mengaum. dan bukan bunyi yang bagus untuk telinga. Sayup sayup suara memohon dilepaskan terdengar bercampur dengan suara pemberontakkan yang melengking nyaring. Diantara suara itu aku mencari suara Anisa. Hatiku mulai digiring memasuki area cemas karena kegaduhan seperti ini. Suasana kacau dan lebih bising dari biasanya.  Jantungku berpacu,  bola mataku bergerak tak karuan. Sampai akhirnya aku menangkap suara Anisa. Samar, namun masih dengan jelas kudengar.
"lepaskan saya pak..! saya tidak mau." jeritnya pilu. dadaku berdesir, ingin segera kutolong sahabatku itu. Aku yakin dia tidak melakukan hal yang salah. Aku meraba apapun yang bisa kusentuh. Mencoba mendekatkan diri kearah suara Anisa. Sampai suara itu datang meruntuhkan keyakinanku.
"Apa yang kau lakukan andi ? kamu putra ayah satu-satunya! dan sekarang kamu seperti seekor ikan yang terperangkap di jala milik ayahmu sendiri!"
"Namaku Anisa ayah. jangan panggil aku andi."  apa? apa yang dia katakan ? alisku bertaut.
"Dasar banci perusak moral" lalu terdengar suara tamparan disusul suara erangan. Aku tersentak hingga membuat kelopak-kelopak hatiku berguguran. Dialog yang kudengar barusan seperti sebuah remote yang dikontrol untuk membuatku mati rasa. Aku lemas, kedua tulang keringku seakan tidak kuasa menopang bobot tubuhku. Mataku perih, tak dapat kucegah lagi bulir-bulir air yang menerobos ingin keluar dari kedua mataku. Seseorang menghampiriku, mungkin salah satu petugas itu. Dia memapah tubuhku. lalu menanyakan bagaimana keadaanku. aku hanya terdiam. pergumulan didadaku bagai sebuah gempa yang berskala besar, menggetarkan tubuhku hingga luruh ke tanah. kemudian suara yang aku kenal betul menyeruak. Suara berat bagai erangan beruang namun manja bagai kicau burung pipit. Tapi sekarang suara manja yang bagai kicau burung pipit tak terdengar. Hanya suara berat bagai erangan beruang yang berkata
"Maaf "
***
Aku terus menerus mengutuki kejadian malam itu. Malam pucat penuh kegusaran. Malam dimana ayah menunaikan tugasnya sebagai polisi pamong praja. Dibawah tahta rembulan dengan cahaya putih berpendar perak, gadis itu tampak kalut bersimbah air mata mengetahui kalau aku,Anisa sahabatnya adalah seorang waria bernama Andi Firmansyah di aktenya. Dari kecil aku memang lebih tertarik dengan sosok putri dan pangeran yang di setiap cerita akan berakhir hidup bahagia selamanya dibanding sekelompok pahlawan super hero yang sibuk bergumul dengan monsternya. Namun aku pun tak ingin seperti ini. Siapa yang mau hidup dimana kau bahkan tidak menginginkan fisikmu yang telah dikaryakan oleh tuhan ?. Dimalam yang sunyi itu. Diiringi angin yang bersiul pelan. juga dengungan nyamuk yang bersenyawa dengan kabut, aku bersama beberapa PSK dan waria lain yang terjaring razia dibawa menggunakan mobil dengan deru mesin yang bergemuruh.
Aaliyah Kamila namanya. Aaliyah berarti tinggi dan mulia sedang Kamila yang berarti sempurna. Dia sahabatku yang menetap  didunia hitam miliknya, hitam yang sebenarnya. Sementara aku jatuh ke dunia hitam milikku, hitam yang bertanda kutip, bersifat kekal dan abadi jika dia tidak mewarnai hitam itu. Awalnya aku menyukai kebersamaan dengannya karena di depannya aku bisa menjadi wanita seuutuhnya. Itu karena dia buta. Tidak dapat melihat ragaku yang tertanam jakun ini. Namun perlahan dengan sikap optimisnya, sifat berisiknya dan mata yang mengeluarkan binar indah, dia mulai menjadi pensil yang menggoreskan warnanya diatas lembaran hidupku yang hitam. Dan akupun berhasrat melakukan hal yang serupa, mewarnai dunianya yang hitam karena ketidakberdayaan. Tapi sudah tujuh bulan sejak kejadian malam itu aku tak tahu kabarnya. Lagipula mungkin Aaliya sudah menyisihkan aku dari memorinya. Siapa yang mau menerima orang sepertiku, setelah tahu semuanya dia mungkin bergidik jijik saat bersua denganku. Aku menatap cermin tampak seorang pria berwajah tirus, dengan rambut ikal tertutup seonggok peci yang melekat di kepalanya. Pakaian putih seputih kapas dan sehalus porselene melekat di badannya yang kurus. Sementara kakinyaa terjuntai sarung bermotif  kotak. Aku menghempaskan napasku, kalau ayah tidak mengirimku ke pesantren ini , aku mungkin tidak akan pernah menggunakan pakaian yang tidak modis begini. Aku menggerakkan tanganku ke arah tombol ON radio. Segera benda kecil itu mengeluarkan senandung lagu 'Separuh Aku' dari band Noah. Lagu itu mengalun lembut menggertarkan dinding-dinding kamarku. Aku merenung, andai saja aku bisa berdamai dengan waktu, berkoalisi dengan takdir dan terikat dengan hati. Dadaku sesak, betapa mudahnya ketiga komponen itu mempermainkanku. Aku berusaha memejamkan mataku saat suara Ariel telah tergerus oleh suara halus nan indah. Suara itu tidak hanya menguasai seisi kamarku, tapi juga seluruh sel-sel tubuhku. Mataku melotot, jantungku gegap gempita. Dengingan laron serta derik kunang pun tertimbun oleh suara berisik itu. Suara Aaliyah Kamila.
“Selamat malam dan salam sejahtera untuk pendengar setia kami. Bertemu lagi dengan saya Aliyah. di 110,4 fm pop radio. Selama dua jam kedepan saya akan menemani para pendengar dalam segment curhat bersama Aaliyah. Hari ini topik yang akan dibahas mengenai  persahabatan. Namun sebelum memulai acara ini saja izinkan mengatakan sesjatu untuk sahabat saya. Hmm.. aku hanya ingin bilang kalau aku merindukanmu. Kau tidak hanya sekedar teman bagiku kau adalah panca  inderaku yg kelima. Aku tidak peduli kau Anisa atau Andi. Yang aku tahu kau adalah orang yang menemaniku selama ini.”
Aku terkesiap. Perlahan kedua airmata menggenang dari kedua mataku. Memang hanya Aliyah yang bisa menerima diriku lebih dari siapapun.
fin

Butuh donasi koment! Segera!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar