Move on Mabrur : The story Of Gigi
Secara umum move on terbagi menjadi tiga. Yang
pertama adalah move on sugra yaitu move on yang kecil-kecil, misalnya
ngehibur diri dengan dengerin musik dangdut koplo, nonton infotainment. Yang
kedua adalah move on kubra yaitu
tindakan move on yang besar. Misalnya
move on dengan ngerampok bank, berburu pacar selusin, dan teriak-teriak di
jembatan layang dengan orasi "Turunkan angka kegalauan, #hidupmoveon". Yang terakhir adalah
move on mabrur, spesifikasi move on
yang datengin uang. Misalnya waktu mau move
on nulis lagu, waktu move on
nulis buku, waktu move on main sulap, tepatnya sulap ngilangin mantan.
Si Rohmat cucu dari
Haji Rohim mempunyai visi yang mulia. Dia kepengen masuk dalam golongan move on mabrur. Oleh karena itu dia
nulis buku biografinya yang berjudul “Rohmat : perjalanan jomblo permanen”. Buku ini adalah kisah hidupnya
yang terangkum selama 21 tahun menyandang status jomblo. Beserta nyesek dan
ngenesnya yang semua tumbuh jadi satu.
Cerita Rohmat yang sarat
hikmah ini dimulai saat dia kelas dua SMP. Saat itu teman-temannya pada pamer
pacar. Rohmat yang kesel pun langsung pulang ke rumah. Dia teriak-teriak sama
Emak yang lagi blender jahe.
"MAK... Beliin
aye pacar mak!! temen aye pada punya tuh." Blender jahe itu langsung
melayang ke kepala Rohmat. Musim-musim pun berlalu, mulai dari musim tomcat,
musim jupe depe cakaran sampe musim rainbow
cake. Akhirnya Rohmat duduk di bangku SMA, yang langsung disambut ocehan
Riko karena bangku yang di duduki Rohmat punya dia. Pelan tapi pasti Rohmat pun
mulai berevolusi jadi cowok yang ngerti apa itu dunia percintaan. Itu juga
setelah baca kamus besar bahasa inggris. Namun fakta lain tersingkap, saat dia
ngerti dunia percintaan, dia jadi ngerti apa arti pacar, saat dia ngerti pacar
dia juga jadi ngerti kenapa dia belum punya pacar. Sebab musababnya adalah gigi
maha akbar yang bertengger unyu di mulutnya ini. gigi yang kata Ucok bisa buat
landasan pacu pesawat. Tapi Rohmat nggak patah arang. segala perawatan buat
nginclongin giginya dia lakuin. Mulai dari manicure, smoothing, creambat dan
lain-lain, dia jabanin. Kalo pun giginya adalah landasan pacu pesawat maka
harus jadi landasan pacu yang berstandar internasional.
Tapi pacar tak
kunjung tiba, hanya penolakan dari sana sini yang datang silih berganti. Dan
yang paling nyesek adalah penolakan dari Siska, cewek OSIS yang cantik, imut,
tinggi 150 cm. Dia nolak Rohmat. Dengan seperangkat tulisan yang mejeng di
mading.
"To Rohmat,, aku
nggak bisa terima cinta kamu. Aku nggak tahan tiap ketemu kamu, minus di mata
aku jadi nambah. Dokter kulitku bilang kalo mata aku tuh harus di sterilin dari
yang silau-silau. Nah gigi kamu itu masuk dalam kategori yang silau-silau itu,
mana nggak bisa mingkem lagi." Rohmat langsung stroke. Tuh kan bener
giginya ini biang masalah. Rohmat lalu mengadukan nasibnya pada semangkuk bakso
di kantin.
"Ya bakso,
kenapa ?!.. kenapa gue harus menyandang gigi ini," ucapnya dramatis. Petir
menggelegar, ilalang bergoyang. "Tapi, ngapain juga gue cerita ke elo? elo
kan nggak punya gigi, so," Rohmat sadar, salju turun, bunga sakura
berjatuhan.
"Lo nggak ngerti
bak, gimana nih gigi nyiptain kesialan bagi gue. Ah, udahlah lo lebih berguna
kalo gue makan so," dia memakan semangkuk bakso itu dengan segenap
jiwanya. Kemudian ungkapan empati berdatangan. Menganggu konsentrasi Rohmat
yang ingin berduaan dengan baksonya.
"Sabar aja Roh,
tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan kok." <= Klise
"Wanita itu
emang racun dunia. Sebagai penerus bangsa jangan sampe kita di intervensi sama
mereka. Mereka harus di bumi hanguskan." <= Radikal
"Tenang aja Roh,
masih banyak cewek lain bro. Kalo gitu biar gue yang bayarin bakso lo yah..
satu biji doang, hahahahah" <= Mati aja elo
Ucapan simpati terus
berdatangan. Apalagi saat 2 bulan kemudian Rohmat kembali di tolak cewek. Sebut
saja Devi, 16 tahun, akun twitter @devidifolback_dunk. Tapi seenggaknya kali
ini cara devi lebih manusiawi buat nolak Rohmat. Dia langsung face to face.
"Rohmat sorry
yah, gue rasa cuma karena cara pandang kita aja yg beda. Cara pandang gue tuh,
pacar gue mukanya harus bertipe artis Korea atau Hollywood. Nyerempet ke India
juga nggak masalah,sih." Ini nih dampak negatif dari film import.
Memanipulasi standar cewek terhadap fisik cowok. Dan bagi cowok yang mukanya
terlanjur pas-pasan, ini merupakan endemi.
Rohmat kemudian
melanjutkan sisa-sisa SMA nya dengan nggak nembak cewek lagi. Selain takut,
ditolak dia juga terlampau minder sama giginya yang nyembul ini. Waktu
valentine, saat temen-temennya pada nerima coklat dia malah nerima kiriman
bunga duka cita. Saat temen-temennya pada takut isu kiamat 2012 dengan bilang,
"Nanti dong kiamat, belum nikah nih," Rohmat malah seneng.
Seenggaknya kalo malaikat di akhirat nanya statusnya dia bakal bilang,
"Belum nikah malaikat, abis kiamatnya dadakan sih."
Akhirnya acara
lulus-lulusan tiba, ditandai dengan tersematnya gelar 'Jomblo Permanen' buat
Rohmat. Dan sekarang, di usianya yang ke-21 Rohmat hendak membagi kisahnya ini
agar menjadi pembelajaran bagi kita semua ke dalam bentuk sebuah buku.
***
Tangisan Rohmat
ngalahin orkes soneta. Bukan karena ditolak cewek (Lagi), tapi karena ditolak
penerbit. Naskah yang udah ngabisin 6 bulan dalam hidupnya. Naskah yang udah
ngerampok kantongnya biar bisa di print di tolak mentah-mentah. 5 menit yang
lalu Rohmat dapet email dari penerbit yang dia kirimin naskahnya. Email yang 2
menit kemudian berubah jadi virus yang ngebuat Rohmat katarak. Selamat tinggal
move on mabrur, selamat datang lembah kegalauan. Rohmat pun mengeluh kesah pada
segelas es doger.
"Kenapa?!..
kenapa sih dog, gue selalu akrab sama yang namanya penolakan?!" ucap
Rohmat melankolis. Air di selat sunda langsung berombak. "Ah udahlah,
knapa juga gue cerita ama elo ger, elo kan nggak bisa nulis buku," bentaknya,
sambil segera ngabisin es doger yang tak berdaya itu dengan sadisnya. Tiba-tiba
suara HP Rohmat bunyi. Matanya langsung berbunga seroja begitu ngeliat nama
yang terpampang di layar. RENA.
"Halo, Ren, ada
apa?" suara Rohmat jadi lunak lembek gitu.
"Ngga! lagi
pengen aja," jawab Rena berhenti sejenak. Agak ragu sedikit lalu mulai
nyalip, "Hmm.. Kevin, minggu nanti kita ketemuan yah?"
"Ke..te..mu..an,"
Rohmat geragapan
"Iya, pokoknya
mau yah. Jam 7 di taman deket kampus, okeh!" KLIK,, telepon terputus
secara sepihak.
Rohmat membatu.
Pikirannya masih mencerna kata-kata Rena tadi. Rena ngajak ketemuan? GAWAAAATTT!!
Kalo beneran kejadian, penyamarannya sebagai Kevin bakal kebongkar. Rentetan
peristiwa penolakan yang dialami Rohmat sepanjang hayatnya ini dia jadiin
referensi. Oleh karena itu dia masih minder dan takut ditolak (lagi). Itulah
kenapa saat dia menyukai Rena teman satu kampusnya, dia lebih milih bergerilya.
Sembunyi-sembunyi kayak teroris. Pake identitas palsu kayak teroris juga. Dan
sekarang Rena malah ngajak ketemuan. Kejadian yang secara nggak langsung
ngebuat Rohmat keder. Lamunan Rohmat diusik oleh suara Bang Juhi yang rame,
"Es doger goceng, NO KREDIT NO BON!!"
****
"Menurut gue,
elo ngaku aja. Sampe kapan elo mau idup dalam ngumpet-ngumpek kagak jelas,"
Saran pakar telematika yang identitasnya nggak bakalan penting juga.
"Anggap aja
posisi elo itu kayak nenek-nenek yang ketahuan kalo giginya ternyata palsu
semua. Nggak ngaruh kan?" ini kata ahli astronomi yang sama nggak
pentingnya.
Akhirnya dengan tekad
ngusir penjajah, Rohmat pun pergi ke taman yang disebut Rena. Setelannya rapi,
giginya bahkan dipakein lipgloss biar rada-rada mengkilap. Di malam yang hitam
persis kopi luwak black coffee,
Rohmat menyusuri jalan setapak menuju taman itu. Dia cemas, takut, keringetnya
terus netes. Gimana kalo Rena marah dan nggak terima dia? Atau nanti dia di
tampar? Penolakan bukunya buat diterbitin udah terlampau sakit, gimana nanti
dengan ini? Pertanyaan yang nggak ada kunci jawabannya itu terus joget-joget erotis
dipikirannya.
Rohmat sampai, sosok
Rena dari penampakkan belakang sudah keliatan. Jantung Rohmat makin berpacu.
Dia hendak berjalan mendekat saat tiba-tiba Rena menoleh. Tatapan mereka
beradu.
"Kayaknya gue salah
jalan deh," ucap Rohmat nyela, dia langsung berbalik arah.
"Tuh kan elo
Rohmat. Dari dulu gue udah ngira kalo Kevin dan Rohmat adalah orang yang
sama," Jelas Rena ngebuat Rohmat tersentak. "Padahal gue udah duluan
suka elo sebagai Rohmat, tapi karena sikap elo yang nggak ada respon, gue
pelan-pelan mundur."
Rohmat nyimak, nggak
gue waktu itu terlalu takut, ren, desis dalam hati.
"Seandainya aja
elo punya sedikiiiiiit kepercayaan diri mungkin ceritanya bakal lain."
Muka Rena merah nahan boker, eh emosi.
Kemudian dia pergi ninggalin Rohmat yang masih cengo dengan kejadian
tadi. Petir menggelegar, ilalang bergoyang, kemudian salju turun serta bunga
sakura berjatuhan mengiringi tangisan khidmat Rohmat.
****
"Halo, ini mas
Rohmat. Kami dari penerbit Gerahdeh bersedia menerbitkan buku anda yang
berjudul 'Syukapada' alias syukuri apa yang ada. untuk lebih lanjut kita
hubungin nanti yah, makasih."
Senyum Rohmat
otomatis mengembang sampe kuping saking lebarnya. Dia girang. Buku yang di
dedikasikan teruntuk giginya ini terbit juga. Rohmat pun meluapkan perasaannya
pada sepiring siomay.
"May, gue nggak
peduli elo nggak punya gigi atau nggak bisa nulis buku. Gue cuma mau bilang
kalo gue.. nggak ditolak lagi sio, buahahahaha." Rohmat bahagia penuh
makna. Akhirnya, sekarang dia udah menunaikan visinya untuk masuk ke dalam
golongan move on mabrur.

wah kalimat yang terakhir menohok gue rur.. wkwkkwkw >.<... komen dah komen nichhh... suka cerpen loe diatas, darah komedi memang mengalir deras di elo... cihuyyy.....
BalasHapus