Senin, April 01, 2013

CerKom : Move On Mabrur

Move on Mabrur : The story Of Gigi



Secara umum move on terbagi menjadi tiga. Yang pertama adalah move on sugra yaitu move on yang kecil-kecil, misalnya ngehibur diri dengan dengerin musik dangdut koplo, nonton infotainment. Yang kedua adalah move on kubra yaitu tindakan move on yang besar. Misalnya move on dengan ngerampok bank, berburu pacar selusin, dan teriak-teriak di jembatan layang dengan orasi "Turunkan angka kegalauan, #hidupmoveon". Yang terakhir adalah move on mabrur, spesifikasi move on yang datengin uang. Misalnya waktu mau move on nulis lagu, waktu move on nulis buku, waktu move on main sulap, tepatnya sulap ngilangin mantan.
Si Rohmat cucu dari Haji Rohim mempunyai visi yang mulia. Dia kepengen masuk dalam golongan move on mabrur. Oleh karena itu dia nulis buku biografinya yang berjudul “Rohmat : perjalanan jomblo permanen”. Buku ini adalah kisah hidupnya yang terangkum selama 21 tahun menyandang status jomblo. Beserta nyesek dan ngenesnya yang semua tumbuh jadi satu.
Cerita Rohmat yang sarat hikmah ini dimulai saat dia kelas dua SMP. Saat itu teman-temannya pada pamer pacar. Rohmat yang kesel pun langsung pulang ke rumah. Dia teriak-teriak sama Emak yang lagi blender jahe.
"MAK... Beliin aye pacar mak!! temen aye pada punya tuh." Blender jahe itu langsung melayang ke kepala Rohmat. Musim-musim pun berlalu, mulai dari musim tomcat, musim jupe depe cakaran sampe musim rainbow cake. Akhirnya Rohmat duduk di bangku SMA, yang langsung disambut ocehan Riko karena bangku yang di duduki Rohmat punya dia. Pelan tapi pasti Rohmat pun mulai berevolusi jadi cowok yang ngerti apa itu dunia percintaan. Itu juga setelah baca kamus besar bahasa inggris. Namun fakta lain tersingkap, saat dia ngerti dunia percintaan, dia jadi ngerti apa arti pacar, saat dia ngerti pacar dia juga jadi ngerti kenapa dia belum punya pacar. Sebab musababnya adalah gigi maha akbar yang bertengger unyu di mulutnya ini. gigi yang kata Ucok bisa buat landasan pacu pesawat. Tapi Rohmat nggak patah arang. segala perawatan buat nginclongin giginya dia lakuin. Mulai dari manicure, smoothing, creambat dan lain-lain, dia jabanin. Kalo pun giginya adalah landasan pacu pesawat maka harus jadi landasan pacu yang berstandar internasional.
Tapi pacar tak kunjung tiba, hanya penolakan dari sana sini yang datang silih berganti. Dan yang paling nyesek adalah penolakan dari Siska, cewek OSIS yang cantik, imut, tinggi 150 cm. Dia nolak Rohmat. Dengan seperangkat tulisan yang mejeng di mading.
"To Rohmat,, aku nggak bisa terima cinta kamu. Aku nggak tahan tiap ketemu kamu, minus di mata aku jadi nambah. Dokter kulitku bilang kalo mata aku tuh harus di sterilin dari yang silau-silau. Nah gigi kamu itu masuk dalam kategori yang silau-silau itu, mana nggak bisa mingkem lagi." Rohmat langsung stroke. Tuh kan bener giginya ini biang masalah. Rohmat lalu mengadukan nasibnya pada semangkuk bakso di kantin.
"Ya bakso, kenapa ?!.. kenapa gue harus menyandang gigi ini," ucapnya dramatis. Petir menggelegar, ilalang bergoyang. "Tapi, ngapain juga gue cerita ke elo? elo kan nggak punya gigi, so," Rohmat sadar, salju turun, bunga sakura berjatuhan.
"Lo nggak ngerti bak, gimana nih gigi nyiptain kesialan bagi gue. Ah, udahlah lo lebih berguna kalo gue makan so," dia memakan semangkuk bakso itu dengan segenap jiwanya. Kemudian ungkapan empati berdatangan. Menganggu konsentrasi Rohmat yang ingin berduaan dengan baksonya.
"Sabar aja Roh, tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan kok."  <= Klise
"Wanita itu emang racun dunia. Sebagai penerus bangsa jangan sampe kita di intervensi sama mereka. Mereka harus di bumi hanguskan." <= Radikal
"Tenang aja Roh, masih banyak cewek lain bro. Kalo gitu biar gue yang bayarin bakso lo yah.. satu biji doang, hahahahah" <= Mati aja elo
Ucapan simpati terus berdatangan. Apalagi saat 2 bulan kemudian Rohmat kembali di tolak cewek. Sebut saja Devi, 16 tahun, akun twitter @devidifolback_dunk. Tapi seenggaknya kali ini cara devi lebih manusiawi buat nolak Rohmat. Dia langsung face to face.
"Rohmat sorry yah, gue rasa cuma karena cara pandang kita aja yg beda. Cara pandang gue tuh, pacar gue mukanya harus bertipe artis Korea atau Hollywood. Nyerempet ke India juga nggak masalah,sih." Ini nih dampak negatif dari film import. Memanipulasi standar cewek terhadap fisik cowok. Dan bagi cowok yang mukanya terlanjur pas-pasan, ini merupakan endemi.
Rohmat kemudian melanjutkan sisa-sisa SMA nya dengan nggak nembak cewek lagi. Selain takut, ditolak dia juga terlampau minder sama giginya yang nyembul ini. Waktu valentine, saat temen-temennya pada nerima coklat dia malah nerima kiriman bunga duka cita. Saat temen-temennya pada takut isu kiamat 2012 dengan bilang, "Nanti dong kiamat, belum nikah nih," Rohmat malah seneng. Seenggaknya kalo malaikat di akhirat nanya statusnya dia bakal bilang, "Belum nikah malaikat, abis kiamatnya dadakan sih."
Akhirnya acara lulus-lulusan tiba, ditandai dengan tersematnya gelar 'Jomblo Permanen' buat Rohmat. Dan sekarang, di usianya yang ke-21 Rohmat hendak membagi kisahnya ini agar menjadi pembelajaran bagi kita semua ke dalam bentuk sebuah buku.
***
Tangisan Rohmat ngalahin orkes soneta. Bukan karena ditolak cewek (Lagi), tapi karena ditolak penerbit. Naskah yang udah ngabisin 6 bulan dalam hidupnya. Naskah yang udah ngerampok kantongnya biar bisa di print di tolak mentah-mentah. 5 menit yang lalu Rohmat dapet email dari penerbit yang dia kirimin naskahnya. Email yang 2 menit kemudian berubah jadi virus yang ngebuat Rohmat katarak. Selamat tinggal move on mabrur, selamat datang lembah kegalauan. Rohmat pun mengeluh kesah pada segelas es doger.
"Kenapa?!.. kenapa sih dog, gue selalu akrab sama yang namanya penolakan?!" ucap Rohmat melankolis. Air di selat sunda langsung berombak. "Ah udahlah, knapa juga gue cerita ama elo ger, elo kan nggak bisa nulis buku," bentaknya, sambil segera ngabisin es doger yang tak berdaya itu dengan sadisnya. Tiba-tiba suara HP Rohmat bunyi. Matanya langsung berbunga seroja begitu ngeliat nama yang terpampang di layar. RENA.
"Halo, Ren, ada apa?" suara Rohmat jadi lunak lembek gitu.
"Ngga! lagi pengen aja," jawab Rena berhenti sejenak. Agak ragu sedikit lalu mulai nyalip, "Hmm.. Kevin, minggu nanti kita ketemuan yah?"
"Ke..te..mu..an," Rohmat geragapan
"Iya, pokoknya mau yah. Jam 7 di taman deket kampus, okeh!" KLIK,, telepon terputus secara sepihak.
Rohmat membatu. Pikirannya masih mencerna kata-kata Rena tadi. Rena ngajak ketemuan? GAWAAAATTT!! Kalo beneran kejadian, penyamarannya sebagai Kevin bakal kebongkar. Rentetan peristiwa penolakan yang dialami Rohmat sepanjang hayatnya ini dia jadiin referensi. Oleh karena itu dia masih minder dan takut ditolak (lagi). Itulah kenapa saat dia menyukai Rena teman satu kampusnya, dia lebih milih bergerilya. Sembunyi-sembunyi kayak teroris. Pake identitas palsu kayak teroris juga. Dan sekarang Rena malah ngajak ketemuan. Kejadian yang secara nggak langsung ngebuat Rohmat keder. Lamunan Rohmat diusik oleh suara Bang Juhi yang rame, "Es doger goceng, NO KREDIT NO BON!!"
****
"Menurut gue, elo ngaku aja. Sampe kapan elo mau idup dalam ngumpet-ngumpek kagak jelas," Saran pakar telematika yang identitasnya nggak bakalan penting juga.
"Anggap aja posisi elo itu kayak nenek-nenek yang ketahuan kalo giginya ternyata palsu semua. Nggak ngaruh kan?" ini kata ahli astronomi yang sama nggak pentingnya.
Akhirnya dengan tekad ngusir penjajah, Rohmat pun pergi ke taman yang disebut Rena. Setelannya rapi, giginya bahkan dipakein lipgloss biar rada-rada mengkilap. Di malam yang hitam persis kopi luwak black coffee, Rohmat menyusuri jalan setapak menuju taman itu. Dia cemas, takut, keringetnya terus netes. Gimana kalo Rena marah dan nggak terima dia? Atau nanti dia di tampar? Penolakan bukunya buat diterbitin udah terlampau sakit, gimana nanti dengan ini? Pertanyaan yang nggak ada kunci jawabannya itu terus joget-joget erotis dipikirannya.
Rohmat sampai, sosok Rena dari penampakkan belakang sudah keliatan. Jantung Rohmat makin berpacu. Dia hendak berjalan mendekat saat tiba-tiba Rena menoleh. Tatapan mereka beradu.
"Kayaknya gue salah jalan deh," ucap Rohmat nyela, dia langsung berbalik arah.
"Tuh kan elo Rohmat. Dari dulu gue udah ngira kalo Kevin dan Rohmat adalah orang yang sama," Jelas Rena ngebuat Rohmat tersentak. "Padahal gue udah duluan suka elo sebagai Rohmat, tapi karena sikap elo yang nggak ada respon, gue pelan-pelan mundur."
Rohmat nyimak, nggak gue waktu itu terlalu takut, ren, desis dalam hati.
"Seandainya aja elo punya sedikiiiiiit kepercayaan diri mungkin ceritanya bakal lain." Muka Rena merah nahan boker, eh emosi.  Kemudian dia pergi ninggalin Rohmat yang masih cengo dengan kejadian tadi. Petir menggelegar, ilalang bergoyang, kemudian salju turun serta bunga sakura berjatuhan mengiringi tangisan khidmat Rohmat.
****
"Halo, ini mas Rohmat. Kami dari penerbit Gerahdeh bersedia menerbitkan buku anda yang berjudul 'Syukapada' alias syukuri apa yang ada. untuk lebih lanjut kita hubungin nanti yah, makasih."
Senyum Rohmat otomatis mengembang sampe kuping saking lebarnya. Dia girang. Buku yang di dedikasikan teruntuk giginya ini terbit juga. Rohmat pun meluapkan perasaannya pada sepiring siomay.
"May, gue nggak peduli elo nggak punya gigi atau nggak bisa nulis buku. Gue cuma mau bilang kalo gue.. nggak ditolak lagi sio, buahahahaha." Rohmat bahagia penuh makna. Akhirnya, sekarang dia udah menunaikan visinya untuk masuk ke dalam golongan move on mabrur.


Nggak koment bakalan jadi 4l4y abadi sepanjang hayat.....
                                                          

1 komentar:

  1. wah kalimat yang terakhir menohok gue rur.. wkwkkwkw >.<... komen dah komen nichhh... suka cerpen loe diatas, darah komedi memang mengalir deras di elo... cihuyyy.....

    BalasHapus