Senin, Mei 06, 2013

CerKom: Agresi MILLYter


Ini adalah cerpen gue yang gak lolos salah satu lomba (#kisahsangmantan) daripada ngelapuk di file lebih baik gue share aja. enjoy it :D
Agresi MILLYter


Wasit yang berpostur pendek dengan rambut ala Stevie Wonder lupa kepangan, meniupkan peluitnya dengan memunculkan efek mata air yang bersumber dari kawah mulutnya. Gue yang merupakan seorang striker langsung mengambil inisiatif menyerang saat bola dengan warna hijau ala hulk wannabe itu sudah melipir manis di kaki gue yang jenjang bagai belalang ini. Bola itu gue ajak gelindingan sampai ke area kotak pinalti. Dua pemain bertahan yang otot bisepnya kekar melambai sudah menghadang gue. Mereka berasal dari klub Semen Ladang. Pemain bertahan Semen Ladang yang berkumis tipis-tipis ini memperlihatkan gerakan seperti mau pipis. Mengawal gue kesana kemari. Sementara pemain satunya lagi, yang kaos kakinya tinggi sebelah mirip menara Petronas lebih memilih menutup celah pergerakan antara gue dan Roby, sang second striker. Sepertinya mereka sedang menerapkan taktik man to man defence dimana setiap pemain membayangi satu lawan. Gue nggak kehilangan akal. Dengan otak optimis, hasil resparasi waktu ikut MLM dulu, gue mulai cari tempat kosong diantara pemain lawan. Taktik ini gue beri nama man looking lubang. Gue oper bola ke Roby melalui terowongan kereta ekonomi di kaki tim lawan. Berhasil! sekarang Roby menguasai bola. Gue maju mencari tempat yang strategis. Kemudian Roby mengoper bola ke gue. Gue melakukan akselerasi menggiring bola menuju bibir gawang. Kiper Semen Ladang sudah merentangkan tangannya kayak mau menyambut pacarnya yang baru pulang dari Arab setelah di bogem majikan. Gue mencari angle yang tepat sebelum bola ini gue cetuskan ke kiper. Gue baru saja hendak menendang bola saat kail mata gue menangkap penampakan iklan layanan masyarakat di monitor yang terletak persis di belakang gawang.
"Agar kepala tetep kalem di tempat, gunakan helm. Iklan ini dipersembahkan oleh dinas keamanan kepala Indonesia."
Bukan karena sample helmnya ada tanda tangan Taufik Hidayat, atau nama sponsor kedinasannya yang gamang, atau monitornya yang menggunakan 3D. Tapi Model wanita itulah yang merampok konsentrasi gue. Beberapa detik kemudian gue baru mengetahui kalau bola yang gue tendang mengenai kiper si pacar TKI Arab. Tepatnya di.... alat vitalnya.
Dan mulai dari itu gue mulai kehilangan konsentrasi. Naluri striker gue tersedot oleh si layar iklan helm. Oleh model iklan yang sudah berstastus mantan gue!
***
Selama pertandingan berlangsung permainan gue jelek. Koordinasi dengan pemain yang lain kurang, begitu juga umpan yang gue beri selalu menuju ke alat vital mereka. Permainan berakhir seri 0 - 0. Di ruang ganti gue diberi siraman rohani oleh coach gue di klub Persiparah ini.
"Beno! Kamu itu kenapa? Ada masalah apa antara kamu dan alat kelamin mereka?" tanyanya vulgar. Pemain lain mendelik sinis ke arah gue. Gue cuma menggeleng. Coach hanya mendesah sambil ngorek jigong di gigi. Assisten coach lalu ngasih gue minuman. Tanpa ragu gue mengambilnya lalu meminumnya, lalu menyemburnya seperti dukun, lalu mengamati botol minuman itu lagi dengan mata yang hampir lepas dari peraduan.
"KENAPA LO LAGI SIH!" jerit gue saat mendapati model iklan yang ada di botol itu adalah oknum yang sama yang ngebuat gue jadi seperti pemburu alat kelamin. Lalu gue pingsan.  Setelah gue sadar, temen-temen pada gosokin minyak telon ke tubuh gue. Tapi gue pingsan lagi karena gambar di minyak telon itu ternyata dia juga.
***
Pertama-tama sebelum melanjutkan cerita yang inspiratif ini, izinkan gue mengenalkan diri dulu. Nama gue Beno. Seorang pria berumur 23 tahun yang hobi main kerambol tapi kemudian banting setir jadi pemain bola. Cewek yang sudah tampil di paragraf awal di atas bernama Milly. Dia adalah mantan gue. Gue menjalin kisah dengannya selama 3 tahun. Sebelum akhirnya putus karena dia lebih memilih karirnya sebagai artis. Gue tentu nggak terima. Tapi Milly tetap pergi meninggalkan hati ini dengan sebongkah luka menganga, hiks. Milly jadi artis beneran. Hidup gue yang semula biasa aja berubah jadi luar biasa aja. Milly mulai menginvasi gue lewat penampakannya di berbagai iklan dan sinetron yang dia perankan. Invasi ini gue namakan Agresi MILLYter. Gue yang emang belum bisa memakzulkan dia di hati ini,tentu galau bukan main. Belakangan gue ketahui kalau dia adalah brand ambassador dari produk yang mensponsori klub Persiparah. Tak ayal gue terpaksa lebih intens bersua dengannya dalam bentuk berbeda.
Pertemuan melalui mediator pihak ketiga itu mau tak mau kembali membuka kenangan yang pernah kami lalui. Pertama kali bertemu Milly saat gue mengikuti turnamen sepakbola antar SMA. Milly saat itu menjadi Cheerleader tim lain. Wajah Milly yang mirip Sizuka di serial Doraemon, kartun favorit gue menarik insting jakun gue. Gue mondar-mandir di depan dia sambil ngibas-ngibasin poni dengan efek air yang keluar dari rambut, mirip Edy Brokoli waktu main iklan shampo anti kutu.
"Siapa..?" dia mulai menyadari kehadiran gue.
"Siapa sih yang baunya mirip kebo mandul kecebur comberan gini?" lanjutnya dengan gerakan nutupin hidung dengan pom-pomnya. Gue baru sadar, kalo gue bahkan belum ganti baju setelah tanding. Alhasil peninggalan sisa-sisa keringat gue yang dihasilkan dari tanding tadi masih begitu menyeruak aromanya..
Gue mulai berinisiatif ngedeketin Milly dengan nyata. Sebagai pemuda yang dulu ikut imunisasi dan penyayang binatang, gue lalu minta nomer hp nya. Tanpa diduga dia memberi tahu. Respon yang sangat baik ini lalu berlanjut. Kita sering telpon-telponan, sms-smsan, mention-mentionan lalu temu-temuan dan akhirnya tembak-tembakan. Gue masih inget moment saat gue nembak Milly. Itu terjadi di pinggiran pantai. Romantis kan gue! Hubungan kami berlangsung hangat. Milly itu orangnya perhatian, suka warna biru, dan populer tapi kadang blo'on juga. Tiap hari Milly nemenin gue latihan bola. Gue pun sering nemenin Milly ikut casting sana sini. Suatu ketika Milly pernah ikut casting film "Emak Pengin Naik Onta". Gue saat itu nemenin.
"Ohh, anakku. Sebelum Emak mu ini menutup mata, izinkan Emak satu kali ini saja. Satu kaaliiiiii saja. Bener deh! Emak pengin NAIK ONTA anakku. hiks!" ceritanya Milly casting untuk peran si Emaknya. Walaupun akting Milly termasuk kategori korban sinetron kejar tayang dan silat Indonesia yang pada hiperbola (baca: Lebaaay asleeh ), gue tetep tepuk tangan. Memberi motivasi gitu.
"Ok! Bagus. Nanti kami kabari lebih lanjut yah!" kata si Produser. "Eh, tunggu! tuh cowok siapa? Kamu nggak ikut casting?" tanya Produser ke gue. Pesona gue emang sulit untuk di elakkan. Choky Sitohang pun mengakui.
"Casting? Jadi apa Pak?" tanya gue malu-malu. Milly ikutan seneng.
"Jadi ontanya!"
Hening.
Sejak saat itu gue pensiun buat nganteri Milly casting film yang ada judul binatangnya. Gue nggak mau mengulang penghinaan "Jadi ontanya!" untuk yang kedua kali. Endingnya Milly kebagian peran jadi ibu-ibu penjual onta.
Milly semakin intens mengikuti casting. Gue juga sibuk ikut turnamen Divisi 1. Kami jarang ketemu. Hingga akhirnya disuatu senja, Milly dan gue ngomong 4 mata. Gue masih ingat kegelisahan Milly saat itu.
"Ben, gue keterima di agency 'padang bulan' entertainment."
"Bagus dong!"
"Jadi gue minta putus. Karena agency gue minta artisnya untuk nggak pacaran. Selain itu kita juga bakalan jarang ketemu. Jadi lebih baik lo cari cewek yang bisa dukung lo!" Milly terisak.
Demi kebo mandul yang nggak pernah kawin! gue bener-bener shock. Tapi gue tetap harus melepas Milly.
Namun sudah 2 tahun sejak kejadian itu berlalu. Gue belum ngelupain dia seutuhnya, walau sekarang gue sudah punya Shina. Cewek maniak sastra yang dengan ketidak beruntungannya udah gue pacari selama 6 bulan. Hari ini gue berencana ngedate dengan dia karena nggak ada jadwal tanding. Namun sepertinya Agresi MILLYter akan terus berlanjut. Berawal saat gue akan ninggalin rumah, di ruang tamu gue lihat nyokap dan adik gue yang lagi seru-serunya nonton sinetron yang (lagi dan lagi) diperankan oleh Milly. Di adegan, tampak Milly sedang makan siomay di pinggiran rel. Gue kembali inget waktu gue dan dia makan siomay di pinggiran sungai. Selain lebih romantis juga lebih sangat layak. Gue langsung pergi, berharap dijalan nggak nemuin Milly yang koar-koar nyuruh beli sosis so nice, atau Milly di bungkus pembalut bersayap, atau yang lebih ekstrem nemuin Milly jadi brand ambassador merk kondom yang terbaru gantiin Jupe. Kalo ini benar terjadi gue bakalan impoten sampe akhir hayat.
"Ben, kamu mau menonton film apa?" tanya Shina saat gue sampai dengan mengenaskan.
"Kita nonton film ini aja, yah!" kata Shina sambil menunjuk poster film "Istri satu tumbuh seribu". Gua mangap! judul apaan tuh. Ini pasti film yang di sponsori Ac*ng Fikri.
Sampai di dalem bioskop, gue dan Shina menonton film itu dengan konsentrasi penuh. Suasana lancar terkendali sebelum akhirnya adegan istri Jepri -sang pemeran utama- mati digigit tomcat. Ini Istri yang ke 999. Lalu kemudian munculah istri ke 1000, dan dia adalah MILLY! gue langsung nelen proyektor. Bisa-bisanya Milly juga turut serta di acara ngedate gue. Gue semaput. Sementara Shina tampak asyik nontonin adegan di pantai Losari, saat Jepri dan Milly ternyata sedang ngasih seserahan buat Nyi Roro Kidul agar hubungan mereka awet. Kemudian gue tercengang saat adegan memasuki konklusi akhir. Ditemani matahari terbenam mereka saling mendekatkan kepala masing-masing. Bukan mau main panco tanpi mau melakukan interaksi layaknya film-film cinta kebanyakan. Ciuman! Ya ampun! Gue aja belum pernah ngelakuin itu sama Milly. Lah, si Jepri yang yang punya track rekord jumlah istri sama dengan penerima BLT ini, malah mau ciuman dengan Milly yang suci. Sumpah! Gue nggak tega buat ngeliat adegan sadis ini. Si Jepri dan Milly makin dekat, gue makin sekarat hingga gue berdiri dan menyentak seluruh umat.
"TIDAAAAAAAK!!!" Teriak gue dengan begitu frontalnya. ShIna narikin tangan gue. Semua penonton merhatiin gue dengan pandangan 'Nih orang anak SLB mana?', suasana mencekam melebihi adegan Voldermort yang nunjuki kepesekan hidungnya untuk pertama kali di film Harry Potter. Gue nggak peduli. Nyelametin Milly dari regenerasi Syekh Puji jauh lebih penting.
"Film apaan nih! Adegan ciuman kok nggak di sensor! Kita ini negara mayoritas muslim. Inilah kenapa banyak anak jalanan yang ngelem," dalih agama emang manjur untuk dijadikan alasan.
"Ben! Lo kesambet apa sih?" kata Shina sambil mamerin tatapan kayak pilot yang mau nabrakin gue dengan pesawat sukhoi. Shina lalu menarik tangan gue ke luar bioskop. Shina marah-marah, lebih karena dia jadi nggak tahu ending film "Satu istri tumbuh seribu" ini. Gue yang merasa butuh tempat curhat, akhirnya mulai bercerita mengenai invasi Milly di hidup gue. Shina berempati ke gue. Jiwa keibuannya muncul. Shena menepuk pundak gue dengan cukup kuat. Lalu dia bilang..
"Udahlah, Ben. Mantan teteplah mantan, lo nggak usah inget kebaikan atau keburukannya lagi. Dia hanyalah sebuah sosok yang lo kenang di balutan memori. Kita hanya perlu menatap ke depan, Ben!"
Ya! Gue harus move on. Shina adalah masa depan gue, dan gue nggak mau ngecewain dia. Demi Shina gue harus ngelupain Milly.

***
Untuk menghentikan Agresi MILLYter ini, gue memutuskan untuk mengirim surat ke Menteri pemuda dan olahraga. Lagipula gue kan termasuk rakyat yang wajib dilindungi dan dijaga hatinya. Usul ini gue dapatkan dari rekomendasi temen-temen di klub Persiparah yang sudah nggak tahan karena alat vitalnya dijadiin target. Berikut penampakan suratnya..
Assalamuaikum,
Hallo bapak menpora, saya Beno. Saya yakin bapak tidak mengenal saya. Saya kenal bapak juga 3 menit sebelum saya menulis surat ini. Sebagai orang yang melek teknologi, tentu saya nyari info Bapak di google. Ternyata bapak mirip sama om-om yang saya sering lihat di infotainment karena sering neliti video artis. Mulai dari video sunatan sampe video kampanye artis. Kalo nggak percaya silakan cek, deh.
Oke saya ngirim surat ini bukan mau jodohin Bapak dengan om-om itu. Tapi saya hanya ingin memberi pengaduan dan sedikit opini. Ini tentang mantan, Pak. Oke! Bapak mungkin bingung, saya juga bingung. Para penjual cimol juga bingung banget. Sebenarnya saya adalah pemain muda sepakbola masa depan Indonesia. Sebagai tukang galau sejati saya merasa murtad kalau nggak mengeluarkan opini saya ini. Ini tentang kenapa Indonesia belum jadi juara Dunia sepakbola. Tentang kenapa regenerasi pemain bola lambat. Tentang kenapa kita kalah dari Malaysia saat piala AFF dulu. Saya punya jawaban itu semua, Pak. Ini semua karena species bernama MANTAN! Saya nggak tahu berapa mantan bapak? tapi yang jelas bagi saya yang punya seorang mantan bernama Milly, artis yang ngetop itu.. tahu kan? kan? kan? kan? Apah? Bapak pernah neliti video dia? nggak usah diterusin. Saya merasa tersiksa. Milly mengintimidasi saya lewat media cetak dan elektronik.  Kegiatan move on saya pun terhambat. Saya jarang cetak gol dan bikin assist buat tim. Saya hanyalah contoh satu dari sekian banyaknya pemuda yang berolahraga kemudian nggak berolahraga lagi karena nggak bisa move on dari mantan. Kalo pemain mudanya seperti ini semua kapan Indonesia bisa jadi juara dunia. Untuk itu saya mohon wacana saya ini dapat bapak teruskan ke dinas terkait. Ke dinas pekerjaan umum mungkin? atau yang lebih tepat ke dinas KPK (Komisi Pemberdayaan Kegalauan). Demi kemaslahatan umat manusia agar nggak berhenti berolahraga, saya pun mengakhiri tulisan saya ini. Bapak bisa mention saya di @Beno_somplak
Akhir kata salam olahraga, Pak. Dan jangan lupa folbek juga loh, Pak!!   
****
One year ago...
Sebenernya sejak 8 bulan lalu gue mulai bisa menangkis serangan yang dilancarkan Agresi MILLYter. Hidup gue mulai aman, sejahtera, makmur, sentosa. Sayangnya itu nggak dibarengi dengan karir sepakbola gue. Karena putus urat achilles akibat dari tackling dari salah satu pemain Bersiram, gue terpaksa pensiun dini. Awalnya gue kayak Sailormoon yang kehilangan kekuatan bulannya, nggak ada niatan hidup. Tapi gue tahu life must go on. Setelah berhenti dari dunia bola, gue sekarang sudah dapat kerja sebagai accounting disuatu perusahaan. Oh ya! gue dapet surat balesan dari surat yang gue kirim ke menpora loh. Isi suratnya sebagai berikut:
"Alamat yang anda kirim salah, silakan cek kembali atau ulangi pengiriman anda. Duh nyusahin aja, alamat pake salah-salah. Jangan ulangi lagi yah!"
Hubungan gue sama Shina juga nggak berlangsung langgeng. 6 bulan lalu gue udah putus sama dia karena masalah ketidak cocokan main ular tangga. Padahal setelah nonton "Habibie dan Ainun" gue berharap kalo Shina lah Ainun gue. Shina sekarang bukan artis kok, jadi gue nggak perlu repot-repot move on kayak gue sama Milly dulu. Dia sekarang sudah jadi direktur disuatu perusahaan. Gue cukup bangga alumni pacar gue sudah jadi orang sukses.
"Ini laporan neracanya dibenerin dong. Masa' salah-salah gini!!!" jerit bos gue sambil ngelempar lembing laporan gue. Mungkin hal cacat di hidup gue sekarang cuma satu. SHINA LAH BOS GUE ITU!!!
"Nggak heran lo jadi mantan gue. Waktu pacaran aja nggak pernah mau ngalah main ular tangga!!" Gue masih nggak percaya kalo ini adalah Shena yang dengan khidmatnya ngasih gue wejangan saat invasi Agresi MILLYter dulu. Kemana kalimat "Udahlah, Ben. Mantan teteplah mantan, lo nggak usah inget kebaikan atau keburukannya lagi. Dia hanyalah sebuah sosok yang lo kenang di balutan memori. Kita hanya perlu menatap ke depan, Ben!" Sepertinya hari-hari gue dengan mantan akan tetep terjalin. Itulah kenapa sebelum putus lo harus cari tahu prospek masa depan mantan lo. Agar kejadian seperti yang diriwayatkan gue ini nggak terulang.cukuplan gue yang ngalamin.
*Gue mewek featuring Habibie*