Ini adalah cerpen gue yang gak lolos salah satu lomba (#kisahsangmantan) daripada ngelapuk di file lebih baik gue share aja. enjoy it :D
Agresi MILLYter

Wasit yang berpostur
pendek dengan rambut ala Stevie Wonder lupa kepangan, meniupkan peluitnya
dengan memunculkan efek mata air yang bersumber dari kawah mulutnya. Gue yang
merupakan seorang striker langsung mengambil inisiatif menyerang saat bola
dengan warna hijau ala hulk wannabe
itu sudah melipir manis di kaki gue yang jenjang bagai belalang ini. Bola itu
gue ajak gelindingan sampai ke area kotak pinalti. Dua pemain bertahan yang
otot bisepnya kekar melambai sudah menghadang gue. Mereka berasal dari klub
Semen Ladang. Pemain bertahan Semen Ladang yang berkumis tipis-tipis ini
memperlihatkan gerakan seperti mau pipis. Mengawal gue kesana kemari. Sementara
pemain satunya lagi, yang kaos kakinya tinggi sebelah mirip menara Petronas
lebih memilih menutup celah pergerakan antara gue dan Roby, sang second striker. Sepertinya mereka sedang
menerapkan taktik man to man defence
dimana setiap pemain membayangi satu lawan. Gue nggak kehilangan akal. Dengan
otak optimis, hasil resparasi waktu ikut MLM dulu, gue mulai cari tempat kosong
diantara pemain lawan. Taktik ini gue beri nama man looking lubang. Gue oper bola ke Roby melalui terowongan kereta
ekonomi di kaki tim lawan. Berhasil! sekarang Roby menguasai bola. Gue maju
mencari tempat yang strategis. Kemudian Roby mengoper bola ke gue. Gue melakukan
akselerasi menggiring bola menuju bibir gawang. Kiper Semen Ladang sudah
merentangkan tangannya kayak mau menyambut pacarnya yang baru pulang dari Arab
setelah di bogem majikan. Gue mencari angle
yang tepat sebelum bola ini gue cetuskan ke kiper. Gue baru saja hendak
menendang bola saat kail mata gue menangkap penampakan iklan layanan masyarakat
di monitor yang terletak persis di belakang gawang.
"Agar kepala
tetep kalem di tempat, gunakan helm. Iklan ini dipersembahkan oleh dinas
keamanan kepala Indonesia."
Bukan karena sample helmnya ada tanda tangan Taufik
Hidayat, atau nama sponsor kedinasannya yang gamang, atau monitornya yang
menggunakan 3D. Tapi Model wanita itulah yang merampok konsentrasi gue.
Beberapa detik kemudian gue baru mengetahui kalau bola yang gue tendang
mengenai kiper si pacar TKI Arab. Tepatnya di.... alat vitalnya.
Dan mulai dari itu
gue mulai kehilangan konsentrasi. Naluri striker gue tersedot oleh si layar
iklan helm. Oleh model iklan yang sudah berstastus mantan gue!
***
Selama pertandingan
berlangsung permainan gue jelek. Koordinasi dengan pemain yang lain kurang,
begitu juga umpan yang gue beri selalu menuju ke alat vital mereka. Permainan
berakhir seri 0 - 0. Di ruang ganti gue diberi siraman rohani oleh coach gue di klub Persiparah ini.
"Beno! Kamu itu
kenapa? Ada masalah apa antara kamu dan alat kelamin mereka?" tanyanya
vulgar. Pemain lain mendelik sinis ke arah gue. Gue cuma menggeleng. Coach hanya mendesah sambil ngorek
jigong di gigi. Assisten coach lalu
ngasih gue minuman. Tanpa ragu gue mengambilnya lalu meminumnya, lalu
menyemburnya seperti dukun, lalu mengamati botol minuman itu lagi dengan mata
yang hampir lepas dari peraduan.
"KENAPA LO LAGI
SIH!" jerit gue saat mendapati model iklan yang ada di botol itu adalah
oknum yang sama yang ngebuat gue jadi seperti pemburu alat kelamin. Lalu gue
pingsan. Setelah gue sadar, temen-temen
pada gosokin minyak telon ke tubuh gue. Tapi gue pingsan lagi karena gambar di
minyak telon itu ternyata dia juga.
***
Pertama-tama sebelum
melanjutkan cerita yang inspiratif ini, izinkan gue mengenalkan diri dulu. Nama
gue Beno. Seorang pria berumur 23 tahun yang hobi main kerambol tapi kemudian
banting setir jadi pemain bola. Cewek yang sudah tampil di paragraf awal di
atas bernama Milly. Dia adalah mantan gue. Gue menjalin kisah dengannya selama
3 tahun. Sebelum akhirnya putus karena dia lebih memilih karirnya sebagai
artis. Gue tentu nggak terima. Tapi Milly tetap pergi meninggalkan hati ini
dengan sebongkah luka menganga, hiks. Milly jadi artis beneran. Hidup gue yang
semula biasa aja berubah jadi luar biasa aja. Milly mulai menginvasi gue lewat
penampakannya di berbagai iklan dan sinetron yang dia perankan. Invasi ini gue
namakan Agresi MILLYter. Gue yang emang belum bisa memakzulkan dia di hati
ini,tentu galau bukan main. Belakangan gue ketahui kalau dia adalah brand ambassador dari produk yang
mensponsori klub Persiparah. Tak ayal gue terpaksa lebih intens bersua
dengannya dalam bentuk berbeda.
Pertemuan melalui
mediator pihak ketiga itu mau tak mau kembali membuka kenangan yang pernah kami
lalui. Pertama kali bertemu Milly saat gue mengikuti turnamen sepakbola antar
SMA. Milly saat itu menjadi Cheerleader tim lain. Wajah Milly yang mirip Sizuka
di serial Doraemon, kartun favorit gue menarik insting jakun gue. Gue
mondar-mandir di depan dia sambil ngibas-ngibasin poni dengan efek air yang
keluar dari rambut, mirip Edy Brokoli waktu main iklan shampo anti kutu.
"Siapa..?"
dia mulai menyadari kehadiran gue.
"Siapa sih yang
baunya mirip kebo mandul kecebur comberan gini?" lanjutnya dengan gerakan
nutupin hidung dengan pom-pomnya. Gue baru sadar, kalo gue bahkan belum ganti
baju setelah tanding. Alhasil peninggalan sisa-sisa keringat gue yang
dihasilkan dari tanding tadi masih begitu menyeruak aromanya..
Gue mulai
berinisiatif ngedeketin Milly dengan nyata. Sebagai pemuda yang dulu ikut
imunisasi dan penyayang binatang, gue lalu minta nomer hp nya. Tanpa diduga dia
memberi tahu. Respon yang sangat baik ini lalu berlanjut. Kita sering
telpon-telponan, sms-smsan, mention-mentionan lalu temu-temuan dan akhirnya
tembak-tembakan. Gue masih inget moment saat gue nembak Milly. Itu terjadi di
pinggiran pantai. Romantis kan gue! Hubungan kami berlangsung hangat. Milly itu
orangnya perhatian, suka warna biru, dan populer tapi kadang blo'on juga. Tiap
hari Milly nemenin gue latihan bola. Gue pun sering nemenin Milly ikut casting sana sini. Suatu ketika Milly
pernah ikut casting film "Emak Pengin Naik Onta". Gue saat itu
nemenin.
"Ohh, anakku.
Sebelum Emak mu ini menutup mata, izinkan Emak satu kali ini saja. Satu
kaaliiiiii saja. Bener deh! Emak pengin NAIK ONTA anakku. hiks!" ceritanya
Milly casting untuk peran si Emaknya. Walaupun akting Milly termasuk kategori
korban sinetron kejar tayang dan silat Indonesia yang pada hiperbola (baca:
Lebaaay asleeh ), gue tetep tepuk tangan. Memberi motivasi gitu.
"Ok! Bagus.
Nanti kami kabari lebih lanjut yah!" kata si Produser. "Eh, tunggu!
tuh cowok siapa? Kamu nggak ikut casting?" tanya Produser ke gue. Pesona
gue emang sulit untuk di elakkan. Choky Sitohang pun mengakui.
"Casting? Jadi
apa Pak?" tanya gue malu-malu. Milly ikutan seneng.
"Jadi
ontanya!"
Hening.
Sejak saat itu gue
pensiun buat nganteri Milly casting
film yang ada judul binatangnya. Gue nggak mau mengulang penghinaan "Jadi
ontanya!" untuk yang kedua kali. Endingnya Milly kebagian peran jadi
ibu-ibu penjual onta.
Milly semakin intens
mengikuti casting. Gue juga sibuk ikut turnamen Divisi 1. Kami jarang ketemu.
Hingga akhirnya disuatu senja, Milly dan gue ngomong 4 mata. Gue masih ingat
kegelisahan Milly saat itu.
"Ben, gue
keterima di agency 'padang bulan'
entertainment."
"Bagus
dong!"
"Jadi gue minta
putus. Karena agency gue minta
artisnya untuk nggak pacaran. Selain itu kita juga bakalan jarang ketemu. Jadi
lebih baik lo cari cewek yang bisa dukung lo!" Milly terisak.
Demi kebo mandul yang
nggak pernah kawin! gue bener-bener shock. Tapi gue tetap harus melepas Milly.
Namun sudah 2 tahun
sejak kejadian itu berlalu. Gue belum ngelupain dia seutuhnya, walau sekarang
gue sudah punya Shina. Cewek maniak sastra yang dengan ketidak beruntungannya
udah gue pacari selama 6 bulan. Hari ini gue berencana ngedate dengan dia
karena nggak ada jadwal tanding. Namun sepertinya Agresi MILLYter akan terus
berlanjut. Berawal saat gue akan ninggalin rumah, di ruang tamu gue lihat
nyokap dan adik gue yang lagi seru-serunya nonton sinetron yang (lagi dan lagi)
diperankan oleh Milly. Di adegan, tampak Milly sedang makan siomay di pinggiran
rel. Gue kembali inget waktu gue dan dia makan siomay di pinggiran sungai.
Selain lebih romantis juga lebih sangat layak. Gue langsung pergi, berharap
dijalan nggak nemuin Milly yang koar-koar nyuruh beli sosis so nice, atau Milly
di bungkus pembalut bersayap, atau yang lebih ekstrem nemuin Milly jadi brand ambassador merk kondom yang
terbaru gantiin Jupe. Kalo ini benar terjadi gue bakalan impoten sampe akhir
hayat.
"Ben, kamu mau
menonton film apa?" tanya Shina saat gue sampai dengan mengenaskan.
"Kita nonton
film ini aja, yah!" kata Shina sambil menunjuk poster film "Istri
satu tumbuh seribu". Gua mangap! judul apaan tuh. Ini pasti film yang di
sponsori Ac*ng Fikri.
Sampai di dalem
bioskop, gue dan Shina menonton film itu dengan konsentrasi penuh. Suasana
lancar terkendali sebelum akhirnya adegan istri Jepri -sang pemeran utama- mati
digigit tomcat. Ini Istri yang ke 999. Lalu kemudian munculah istri ke 1000,
dan dia adalah MILLY! gue langsung nelen proyektor. Bisa-bisanya Milly juga
turut serta di acara ngedate gue. Gue semaput. Sementara Shina tampak asyik
nontonin adegan di pantai Losari, saat Jepri dan Milly ternyata sedang ngasih
seserahan buat Nyi Roro Kidul agar hubungan mereka awet. Kemudian gue
tercengang saat adegan memasuki konklusi akhir. Ditemani matahari terbenam
mereka saling mendekatkan kepala masing-masing. Bukan mau main panco tanpi mau
melakukan interaksi layaknya film-film cinta kebanyakan. Ciuman! Ya ampun! Gue
aja belum pernah ngelakuin itu sama Milly. Lah, si Jepri yang yang punya track rekord jumlah istri sama dengan
penerima BLT ini, malah mau ciuman dengan Milly yang suci. Sumpah! Gue nggak
tega buat ngeliat adegan sadis ini. Si Jepri dan Milly makin dekat, gue makin
sekarat hingga gue berdiri dan menyentak seluruh umat.
"TIDAAAAAAAK!!!"
Teriak gue dengan begitu frontalnya. ShIna narikin tangan gue. Semua penonton
merhatiin gue dengan pandangan 'Nih orang anak SLB mana?', suasana mencekam melebihi
adegan Voldermort yang nunjuki kepesekan hidungnya untuk pertama kali di film
Harry Potter. Gue nggak peduli. Nyelametin Milly dari regenerasi Syekh Puji
jauh lebih penting.
"Film apaan nih!
Adegan ciuman kok nggak di sensor! Kita ini negara mayoritas muslim. Inilah
kenapa banyak anak jalanan yang ngelem," dalih agama emang manjur untuk
dijadikan alasan.
"Ben! Lo
kesambet apa sih?" kata Shina sambil mamerin tatapan kayak pilot yang mau
nabrakin gue dengan pesawat sukhoi. Shina lalu menarik tangan gue ke luar
bioskop. Shina marah-marah, lebih karena dia jadi nggak tahu ending film
"Satu istri tumbuh seribu" ini. Gue yang merasa butuh tempat curhat, akhirnya
mulai bercerita mengenai invasi Milly di hidup gue. Shina berempati ke gue.
Jiwa keibuannya muncul. Shena menepuk pundak gue dengan cukup kuat. Lalu dia
bilang..
"Udahlah, Ben.
Mantan teteplah mantan, lo nggak usah inget kebaikan atau keburukannya lagi.
Dia hanyalah sebuah sosok yang lo kenang di balutan memori. Kita hanya perlu
menatap ke depan, Ben!"
Ya! Gue harus move
on. Shina adalah masa depan gue, dan gue nggak mau ngecewain dia. Demi Shina
gue harus ngelupain Milly.
***
Untuk menghentikan
Agresi MILLYter ini, gue memutuskan untuk mengirim surat ke Menteri pemuda dan
olahraga. Lagipula gue kan termasuk rakyat yang wajib dilindungi dan dijaga
hatinya. Usul ini gue dapatkan dari rekomendasi temen-temen di klub Persiparah
yang sudah nggak tahan karena alat vitalnya dijadiin target. Berikut penampakan
suratnya..
Assalamuaikum,
Hallo bapak
menpora, saya Beno. Saya yakin bapak tidak mengenal saya. Saya kenal bapak juga
3 menit sebelum saya menulis surat ini. Sebagai orang yang melek teknologi,
tentu saya nyari info Bapak di google. Ternyata bapak mirip sama om-om yang
saya sering lihat di infotainment karena sering neliti video artis. Mulai dari
video sunatan sampe video kampanye artis. Kalo nggak percaya silakan cek, deh.
Oke saya
ngirim surat ini bukan mau jodohin Bapak dengan om-om itu. Tapi saya hanya
ingin memberi pengaduan dan sedikit opini. Ini tentang mantan, Pak. Oke! Bapak
mungkin bingung, saya juga bingung. Para penjual cimol juga bingung banget.
Sebenarnya saya adalah pemain muda sepakbola masa depan Indonesia. Sebagai
tukang galau sejati saya merasa murtad kalau nggak mengeluarkan opini saya ini.
Ini tentang kenapa Indonesia belum jadi juara Dunia sepakbola. Tentang kenapa
regenerasi pemain bola lambat. Tentang kenapa kita kalah dari Malaysia saat
piala AFF dulu. Saya punya jawaban itu semua, Pak. Ini semua karena species
bernama MANTAN! Saya nggak tahu berapa mantan bapak? tapi yang jelas bagi saya
yang punya seorang mantan bernama Milly, artis yang ngetop itu.. tahu kan? kan?
kan? kan? Apah? Bapak pernah neliti video dia? nggak usah diterusin. Saya
merasa tersiksa. Milly mengintimidasi saya lewat media cetak dan
elektronik. Kegiatan move on saya pun
terhambat. Saya jarang cetak gol dan bikin assist buat tim. Saya hanyalah
contoh satu dari sekian banyaknya pemuda yang berolahraga kemudian nggak
berolahraga lagi karena nggak bisa move on dari mantan. Kalo pemain mudanya
seperti ini semua kapan Indonesia bisa jadi juara dunia. Untuk itu saya mohon
wacana saya ini dapat bapak teruskan ke dinas terkait. Ke dinas pekerjaan umum
mungkin? atau yang lebih tepat ke dinas KPK (Komisi Pemberdayaan Kegalauan).
Demi kemaslahatan umat manusia agar nggak berhenti berolahraga, saya pun
mengakhiri tulisan saya ini. Bapak bisa mention saya di @Beno_somplak
Akhir kata
salam olahraga, Pak. Dan jangan lupa folbek juga loh, Pak!!
****
One
year ago...
Sebenernya sejak 8
bulan lalu gue mulai bisa menangkis serangan yang dilancarkan Agresi MILLYter.
Hidup gue mulai aman, sejahtera, makmur, sentosa. Sayangnya itu nggak dibarengi
dengan karir sepakbola gue. Karena putus urat achilles akibat dari tackling
dari salah satu pemain Bersiram, gue terpaksa pensiun dini. Awalnya gue kayak
Sailormoon yang kehilangan kekuatan bulannya, nggak ada niatan hidup. Tapi gue
tahu life must go on. Setelah
berhenti dari dunia bola, gue sekarang sudah dapat kerja sebagai accounting disuatu perusahaan. Oh ya!
gue dapet surat balesan dari surat yang gue kirim ke menpora loh. Isi suratnya
sebagai berikut:
"Alamat yang
anda kirim salah, silakan cek kembali atau ulangi pengiriman anda. Duh nyusahin
aja, alamat pake salah-salah. Jangan ulangi lagi yah!"
Hubungan gue sama Shina
juga nggak berlangsung langgeng. 6 bulan lalu gue udah putus sama dia karena
masalah ketidak cocokan main ular tangga. Padahal setelah nonton "Habibie dan
Ainun" gue berharap kalo Shina lah Ainun gue. Shina sekarang bukan artis
kok, jadi gue nggak perlu repot-repot move
on kayak gue sama Milly dulu. Dia sekarang sudah jadi direktur disuatu
perusahaan. Gue cukup bangga alumni pacar gue sudah jadi orang sukses.
"Ini laporan
neracanya dibenerin dong. Masa' salah-salah gini!!!" jerit bos gue sambil
ngelempar lembing laporan gue. Mungkin hal cacat di hidup gue sekarang cuma
satu. SHINA LAH BOS GUE ITU!!!
"Nggak heran lo
jadi mantan gue. Waktu pacaran aja nggak pernah mau ngalah main ular
tangga!!" Gue masih nggak percaya kalo ini adalah Shena yang dengan
khidmatnya ngasih gue wejangan saat invasi Agresi MILLYter dulu. Kemana kalimat
"Udahlah, Ben. Mantan teteplah mantan, lo nggak usah inget kebaikan atau
keburukannya lagi. Dia hanyalah sebuah sosok yang lo kenang di balutan memori.
Kita hanya perlu menatap ke depan, Ben!" Sepertinya hari-hari gue dengan
mantan akan tetep terjalin. Itulah kenapa sebelum putus lo harus cari tahu prospek
masa depan mantan lo. Agar kejadian seperti yang diriwayatkan gue ini nggak
terulang.cukuplan gue yang ngalamin.
*Gue mewek featuring Habibie*